Kompas.com - 03/10/2015, 09:17 WIB
|
EditorLatief

KOMPAS.com - Guru bahasa saya di sekolah menengah pernah bertanya, “Siapa yang sampai hari ini masih suka menulis buku harian?”. Setelah sejenak saling pandang, kami semua serentak tertawa.

Kemudian beliau meluncurkan pertanyaan kedua. “Menurut kalian, apa bedanya menulis diari dengan curhat harian kalian di media sosial?”. Tanpa berpikir, kami pun membandingkan betapa kunonya buku harian dan asiknya bersuara di jejaring sosial.

Saat itu, guru saya hanya tersenyum sambil menjelaskan sudut pandangnya. Menurut dia, pada dasarnya kedua kegiatan tersebut serupa. Hanya saja, kebiasaan menulis buku harian kian ditinggalkan karena menggenggam buku semakin terasa janggal dibandingkan memegang ponsel.

Sebenarnya, dibandingkan media sosial, memegang buku harian lebih membebaskan penulisnya. Tanpa ada orang lain yang melihat, tak ada gengsi atau pencitraan harus dijaga. Bahkan, mengeluarkan hal paling rahasia dan tabu sekali pun menjadi sah saja di buku harian.

Buku harian bisa menjadi pendengar setia pemiliknya tanpa banyak kritik dan komentar. Ujungnya, penat dan beban pun seolah terangkat.

Selain itu, aktivitas pemiliknya dapat tercatat dan tersimpan rapi. Sejarah dan buah pikiran di masa lalu pun dapat dibuka kembali dan bisa dijadikan solusi nantinya.

Seperti pernah dituturkan di Kompas.com, psikoterapis Kathleen Adams pernah mengatakan bahwa terapi buku harian bisa mengajari seseorang tentang dirinya sendiri. Mendokumentasikan pengalaman dapat membantu orang mendengarkan suara dalam benak sekaligus kebutuhan tubuh.

Shutterstock Perkenalan anak dengan gawai yang begitu dini mengakibatkan pelajaran menulis bukanlah hal yang menarik lagi.

Tanpa batas

Boleh jadi, salah satu alasan ditinggalkannya buku harian adalah citranya yang melulu soal curahan hati. Padahal, tak ada aturan baku dalam menulis buku harian. Anda bisa mencatat apa saja, mulai jurnal gizi sampai aktivitas olahraga.

Rutin mencatat pola makan, misalnya. Anda dapat mengatur asupan harian dan kualitas menu makanan di sini. Jika suatu hari menderita sariawan, Anda dapat mengetahui besar kecilnya asupan vitamin C hanya dengan mengacu pada catatan tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.