Kompas.com - 29/10/2015, 11:38 WIB
Digelarnya 'Holland Alumni Reception 2015' memang dijadikan ajang berkumpul para alumni perguruan tinggi Belanda. Tak hanya dari Indonesia, tapi juga seluruh alumni dari negara-negara ASEAN, seperti Filipina, Vietnam, dan Thailand. M LATIEF/KOMPAS.comDigelarnya 'Holland Alumni Reception 2015' memang dijadikan ajang berkumpul para alumni perguruan tinggi Belanda. Tak hanya dari Indonesia, tapi juga seluruh alumni dari negara-negara ASEAN, seperti Filipina, Vietnam, dan Thailand.
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com — Menimba ilmu di Belanda ternyata mengubah sudut pandang para mahasiswa asal Indonesia. Tidak hanya urusan akademis.

Itulah sebagian pengalaman berharga dari empat alumnus universitas Belanda dalam acara Holland Alumni Reception 2015 di Erasmus Huis, Jakarta, Rabu (28/10/2015). Dalam acara tersebut, mereka saling mengisahkan pengalamannya menjadi diri sendiri di negeri asing, misalnya bertahan pada suhu di bawah nol derajat sambil bersepeda ke kampus yang agaknya membawa hikmah tersendiri bagi mereka.
 
"Ternyata, saya bisa mengantre, bisa berpikir lebih sistematis, dan bisa blakblakan," ujar Immanuel Bungkulan Binsar H, alumnus The Hague University.

Perbedaan budaya antara Asia dan Eropa tentu menjadi tantangan tersendiri. Terlebih lagi, sistem pembelajaran di pendidikan tinggi Belanda berbeda dengan di Indonesia.

"Mereka (mahasiswa Belanda) biasa mengungkapkan ide di dalam kelas. Ini memicu saya bisa mengekspresikan diri," kata Garry Armando Reagan, salah satu penerima beasiswa Studeren in Nederland (StuNed).

Sementara itu, Delphine, yang telah lulus dari jurusan ilmu sosial, menceritakan bahwa dirinya sempat tak percaya ketika dinasihati bahwa tinggal di Belanda malah akan memberikan banyak pelajaran tentang dirinya sendiri.

M LATIEF/KOMPAS.com Menimba ilmu di Belanda ternyata mengubah sudut pandang para mahasiswa asal Indonesia. Tidak hanya urusan akademis.
"Jujur saja, tujuan awal saya ke Belanda adalah ingin jalan-jalan keliling Eropa. Namun, setelah setahun menghabiskan banyak waktu di perpustakaan, saya malah menemukan bahwa saya suka belajar hal baru setiap hari," ujarnya.

"Sekarang saya akan kembali ke sana untuk mengambil gelar PhD (gelar doktor untuk S-3)," ucap Delphine.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hidup jauh dari keluarga dan sanak saudara memang tak mudah. Namun, berada di tengah-tengah teman sebangsa saat menempuh studi di The Hague University membuat Denvi Saputri kuat.

"Saya belajar disiplin, belajar tepat waktu, dan menjadi mandiri," tuturnya.

Bertukar jejaring

Holland Alumni Reception 2015 memang menjadi ajang berkumpul para alumnus perguruan tinggi Belanda. Tak hanya dari Indonesia, tetapi juga para alumnus dari negara-negara ASEAN, seperti Filipina, Vietnam, dan Thailand.

"Ikatan alumni ini dibentuk sebagai wadah membagi ilmu yang relevan. Mereka berkumpul untuk saling berkenalan, berdiskusi tentang air, kesehatan, kota cerdas, atau perkembangan daerah urban," tutur Direktur Nuffic Neso, Theo Hooghiemstra, saat membuka acara tersebut.

Hingga saat ini, setidaknya ada 50.000 alumnus di lebih dari 50 negara. Dari Indonesia sendiri telah ada sekitar 8.000 alumnus.

"Anda menggunakan kami, dan kami menggunakan Anda sekalian untuk saling bertukar dan memperluas jejaring," kata Rob Swartbol, Duta Besar Belanda untuk Indonesia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.