Kompas.com - 29/12/2015, 10:15 WIB
Walau jumlah riset di Indonesia cukup jauh tertinggal, perlu diapresiasi bahwa angkanya terus naik dari tahun ke tahun. WWW.SHUTTERSTOCK.COMWalau jumlah riset di Indonesia cukup jauh tertinggal, perlu diapresiasi bahwa angkanya terus naik dari tahun ke tahun.
|
EditorLatief


KOMPAS.com
– Peran utama perguruan tinggi adalah menyokong kebutuhan sumber daya manusia berkualitas. Dalam menjalankan peran ini perguruan tinggi perlu meningkatkan mutu dan relevansi antara ilmu pengetahuan teoritis dan praktik.

Salah satu indikatornya adalah pengembangan riset. Kenapa penting? Riset dapat mendekatkan pendidikan dengan realitas sosial serta mampu menawarkan solusi.

Tuntutan globalisasi, krisis global, persingan ekonomi, dan politik terus berubah sehingga perguruan tinggi mau tak mau harus mengejar kualitasnya. Terlebih lagi, animo masyarakat untuk menuntut studi ke luar negeri makin tinggi.

Pada 2014 lalu saja, misalnya, sekitar 40 ribu mahasiswa Indonesia menuntut ilmu di luar negeri. Tren ini, menurut Ikatan Konsultan Pendidikan Internasional Indonesia, terus tumbuh sebanyak 20 persen tiap tahunnya. Haruskah perguruan tinggi Indonesia kehilangan pamor di negerinya sendiri?

Kejar target riset

Saat ini, walaupun jumlah riset di Indonesia cukup jauh tertinggal, perlu diapresiasi bahwa angkanya terus naik dari tahun ke tahun. Menurut data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, jumlah dosen dan peneliti di Indonesia naik dari angka 540 pada 1996 menjadi 4.175 di tahun 2013. Sementara itu, total publikasi jurnal internasional dari dosen perguruan tinggi swasta tersertifikasi mengalami kenaikan sebesar 49 persen.

Namun begitu, angka tersebut tentu belum cukup. Menjawab tantangan ini, perguruan-perguruan tinggi baik negeri maupun swasta berlomba-lomba meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian mereka. Salah satunya adalah Universitas Bina Nusantara (Binus).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Demi mencapai tujuan tersebut, Prof Bahtiar Saleh Abbas, Guru Besar Binus, ditunjuk sebagai penanggung jawab riset di Binus. Strategi ini terbukti cukup efektif. Menurut data Scopus, Binus berhasil meningkatkan jumlah penelitian dari hitungan jari saja menjadi sekitar 400 lebih dalam kurun lima tahun.

Jerih payah itu pun terbayar. Pada Rabu (2/12/2015) lalu Binus mendapatkan penghargaan sebagai "Perguruan Tinggi Swasta Terbaik 2015" oleh Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah III.

Sebanyak 7 kategori dimenangkan, termasuk kategori riset dan pemanfaatan. Jumlah riset Binus dinilai paling tinggi diantara 334 universitas swasta lain yang berada di bawah pengawasan Kopertis III.

"Sebetulnya penghargaan ini hadiah, tapi juga membuat kita percaya bahwa kita berada di dalam track yang benar. Track yang benar ini akan menjadi sebuah modal kita untuk mencapai misi 2020 menjadi world class university," ucap Prof Harjanto Prabowo, Rektor Binus kepada Kompas.com Jumat (18/12/2015).

Dia berharap, penghargaan ini tak membuat Binus terlena, namun lebih memberikan semangat kerja keras.

"Tidak hanya bangga, namun juga harus hati-hati karena kita terbaik sekarang, jangan sampai orang kecewa dengan kita," ucap Harjanto.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.