Di Balik Liputan Hari Guru Kompas, Pemenang Adinegoro 2015

Kompas.com - 22/01/2016, 17:03 WIB
Murtani, kepala sekolah SD Sorongan 2, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten, menaiki rakit menyeberangi sungai untuk menuju sekolah, Jumat (20/11/2015). Lokasi sekolah yang sulit diakses memuat guru harus berjuang untuk menuju sekolah. Kompas/Yuniadhi AgungMurtani, kepala sekolah SD Sorongan 2, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten, menaiki rakit menyeberangi sungai untuk menuju sekolah, Jumat (20/11/2015). Lokasi sekolah yang sulit diakses memuat guru harus berjuang untuk menuju sekolah.
|
EditorAmir Sodikin
Surat elektronik berisi pemberitahuan menggembirakan dari Panitia Pusat Hari Pers Nasional masuk ke inbox redaksi Kompas pada Kamis siang (21/1/2016). Isinya memberi ucapan selamat karena Tim Pendidikan dan Kebudayaan harian Kompas yang memenangkan Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2015.

Penghargaan tersebut untuk kategori In depth Reporting (liputan dengan kedalaman) atas karya berjudul “Kecukupan Guru Masih Semu, Beban Para Guru di Daerah Tertinggal" yang dimuat di harian Kompas pada tanggal 23–26 November 2015.

Karya yang menang itu merupakan kumpulan serial dari sembilan tulisan yang disiapkan khusus untuk memperingati Hari Guru Nasional 2015, pada November 2015. Karya-karya itu dapat dilihat di laman resmi harian Kompas di print.kompas.com.

Dengan keterbatasan ruang pada media cetak, liputan sengaja diturunkan dalam bentuk kumpulan-kumpulan tulisan berpadu foto dan infografik. Ibarat kepingan mozaik yang pada akhirnya membentuk sebuah gambar besar tentang masalah ketersediaan, ketimpangan distribusi, dan  kesejahteraan guru.

Liputan tematis guru lebih dari apa yang telah dimuat di media cetak, harian Kompas. Materi-materi liputan itu juga disinergikan dengan laman print.kompas.com yang dapat menampung materi berbagai bentuk lebih leluasa serta ditautkan dengan gerakan di media sosial.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Suhendi, guru honorer mengajar di kelas jauh SD Kutakarang 3, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang, Banten, Sabtu (21/11/2015). Sekolah ini kekurangan guru karena lokasinya terpencil sehingga tidak banyak guru yang berminat mengajar di tempat ini.

Peliputan dimulai dengan tim Pendidikan dan Kebudayaan harian Kompas mencari data kekurangan dan kelebihan guru di kabupaten dan kota di Indonesia. Data itu kemudian digunakan sebagai bahan infografis dan dari data itu pula kami mengetahui beberapa daerah mengalami kekurangan guru yang cukup berat dan ditopang dengan kehadiran guru tidak tetap.

Berdasarkan data itu, tim inti turun ke lapangan. Laraswati Ariadne berangkat ke Nabire, Papua. Sedangkan, Indira Permanasari, Ester Lince, dan Lasti kurnia (wartawan foto) ke Kecamatan Tegalbuleud di Sukabumi, Jawa Barat. Ada pula Luki Aulia bersama Yuniadhi Agung (wartawan foto) yang berangkat ke Pandeglang, Banten.

Di Sukabumi dan Pandeglang, kami menemui guru-guru yang sepenuh hati berbakti untuk mengajar di sekolah-sekolah yang sulit diakses. Mereka terpaksa berjalan kaki hingga 4 jam  perjalanan di wilayah perbukitan ketika hujan turun dan jalan sulit dilewati.


Di sejumlah sekolah, jumlah guru berstatus pegawai  negeri sangat terbatas sehingga ditopang guru tidak tetap yang dibayar jauh lebih rendah dari upah buruh.

Di Nabire, Laraswati bertemu dengan para guru dari Pulau Jawa yang puluhan tahun mengabdi di pedalaman Papua.  Selain itu,  dia juga melihat guru-guru yang beban tugasnya begitu berat. Tak hanya mengajarkan materi, pelajaran tetapi juga ikut berperan memberdayakan masyarakat.

Perjalanan tim inti menuju sekolah di pelosok Sukabumi dapat disaksikan di print.kompas.com dengan beberapa artikel, di antaranya "Guru di Tempat Terpencil Sukabumi, Pengabdian Tak Berbatas" dan "Menjaga Indonesia hingga Pelosok Negeri". Sedangkan perjalanan tim menuju sekolah di Pandeglang bisa dilihat di "Kisah Pilu Akses Pendidikan di Pelosok Pandeglang".

Selain itu, wartawan Kompas di berbagai daerah juga mendukung untuk melihat kecukupan dan kondisi guru di daerah masing-masing. Hasil dari liputan lalu digabungkan untuk diturunkan sebagai tulisan berseri di halaman satu dan rubrik Pendidikan dan Kebudayaan Kompas selama empat hari.


Berbagai tulisan, grafis, dan kisah di belakang layar liputan itu juga dibagikan lewat media sosial (Twitter), bersinergi dengan gerakan dengan tagar #TerimaKasihGuruku.

Rangkaian tulisan tentang guru itu dirancang dengan dasar keprihatinan kami sebagai wartawan yang sehari-hari meliput tentang pendidikan dan guru sebagai salah satu aktor pentingnya.

Puluhan tahun merdeka, jumlah, distribusi, kualitas, dan kesejahteraan guru selalu menjadi masalah. Guru yang memadai dan berkualitaslah kunci yang membawa Indonesia pada kemajuan. Terima kasih untuk bapak dan ibu guru. (Indira Permanasari)

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X