Sistem "Online", Revolusi Penghematan Uang dan Sayang Lingkungan

Kompas.com - 28/01/2016, 16:49 WIB
Murid mengerjakan soal ujian nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan komputer jinjing di SMK Negeri 2 Salatiga, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Senin (13/4). Mulai tahun ini, sebagian sekolah mulai menggunakan sistem ujian berbasis komputer dalam penyelenggaraan ujian nasional. Kompas/Ferganata Indra RiatmokoMurid mengerjakan soal ujian nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan komputer jinjing di SMK Negeri 2 Salatiga, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Senin (13/4). Mulai tahun ini, sebagian sekolah mulai menggunakan sistem ujian berbasis komputer dalam penyelenggaraan ujian nasional.
|
EditorLatief

KOMPAS.com - Bayangkan, setiap tahun ada 7 juta siswa mengikuti ujian nasional (UN), yang masing-masing memakai minimal sepuluh lembar kertas. Jika satu pohon pinus menghasilkan 16 rim kertas, berarti ada sekitar 8.750 pohon pinus ditebang per tahun hanya untuk UN.

Nah, kebutuhan kertas berbahan baku pohon sebanyak itu akan menyusut drastis, jika proses semacam UN beralih menjadi online. Penerapan sistem online juga otomatis mendukung gerakan ramah lingkungan atau go green.

Bahan baku utama kertas berasal dari pohon atau kayu. Namun, pohon baru dapat diolah menjadi kertas setelah berumur 5 sampai 10 tahun. Selain itu, seperti dikutip dari situs web Kementerian Keuangan, membuat satu ton kertas butuh 7.000 galon air dan 20 pohon. 

Dengan begitu, pelaksanaan UN yang tak lagi berbasis kertas pada setiap tahun dapat ikut melestarikan ekosistem dengan signifikan mengurangi penebangan pohon. Itu baru dari ujian sekolah, tapi sudah serasa gerakan revolusi‎ dalam upaya menjaga lingkungan hidup.

Tak cuma UN

Di Indonesia pemanfaatan sistem online di dunia pendidikan sudah berkembang dalam dekade terakhir. Pada 2009, misalnya, ujian masuk perguruan tinggi negeri (PTN) telah mengadopsinya. UN untuk pendidikan menengah, menyusul mulai memakai sistem ini pada 2015.

Selain turut melestarikan lingkungan, UN berbasis online juga akan berdampak pada penghematan anggaran pendidikan. Sebagai awal, pada 2015 ada 170.000 siswa dari 700 sekolah setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) tak lagi memakai kertas untuk lembar soal dan jawaban UN.

Hitung saja penghematannya. Karena sebelumnya, per siswa peserta UN butuh dana Rp 80.000 untuk biaya cetak, kertas, serta distribusi lembar soal dan jawaban.

Berdasarkan percobaan UN online pada 2015, Pemerintah menyebut sudah menghemat anggaran Rp 13,6 miliar. Karena itu, seperti dikutip Kompas.com pada Oktober 2015 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan UN online atau computer based test (CBT) ke depannya akan diterapkan di sekolah lain yang belum menerapkannya.

"Saya berharap para siswa dapat semakin terbiasa menggunakan komputer dan internet dalam konteks pendidikan. Penerapan ulangan sistem online pun dinilai lebih variatif dari segi penyajian soal," papar Anies.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X