Mengapa Kita Masih "Kalah" dari Malaysia?

Kompas.com - 12/04/2016, 11:37 WIB
Lulus kuliah mau jadi ilmuan? WWW.SHUTTERSTOCK.COMLulus kuliah mau jadi ilmuan?
|
EditorLatief

KOMPAS.com – Jumlah karya ilmiah di Indonesia memang masih jauh tertinggal. Pada Januari 2015 saja, satu universitas di Negeri Jiran bisa menelurkan 19.878 artikel ilmiah terindeks Scopus, lima kali lipat lebih banyak dibanding satu perguruan tinggi di Indonesia.

Wajar saja, bidang sains memang masih kekurangan asupan Sumber Daya Manusia (SDM). Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) mendapati hanya ada 90 peneliti per satu juta penduduk Indonesia pada Agustus 2015. Angka itu masih jauh di bawah India, Brasil, Rusia, Tiongkok, dan Korea Selatan.

Namun, data statistik di atas tak perlu kemudian menjadi beban bagi para calon ilmuwan. Mengasah kualitas diri tetap jadi misi utama. Dalam kesempatan berbincang bersama peneliti dan ahli fisika dari Karlshure Institute of Technology, Jerman, Doktor Martin Spinrath, Kompas.com sempat menggali topik ini lebih jauh.

Tiga kunci utama

Martin menjelaskan setidaknya ada tiga kunci sukses agar bisa menjadi seorang ilmuwan berkualitas internasional. Tiga hal ini adalah talenta atau kemampuan diri, motivasi, serta lingkungan kerja yang mendukung.

"Seorang ilmuwan perlu mendapat pendidikan yang baik, juga sifat keras kepala, dalam arti punya keinginan kuat untuk tekun dan bekerja keras," kata Martin usai mengisi kuliah singkat bertajuk "The Phisics Nobelprize 2015: Why Neutrions Matter" di hadapan puluhan mahasiswa Binus ASO School of Engineering (BASE) di Kampus BASE, Serpong, Sabtu (9/4/2016).

Mental seorang ilmuwan, menurut Martin, tidak dapat dibeli dengan uang, melainkan lahir dari dalam diri. Karena itu, selagi mengecap bangku kuliah, mahasiswa—sebagai cikal bakal ilmuwan—harus terbiasa melihat satu hal dalam sudut pandang lebih luas.

"Tidak hanya di lingkungan kampus, mereka harus terbuka untuk tahu bidang apa saja yang sebenarnya butuh kontribusi mereka," tutur Martin.

Ilmu fisika "tulen" yang dipaparkan Martin di hadapan mahasiswa engineering sekilas tampak tak berkaitan langsung dengan bidang studi mereka. Namun sebenarnya, menurut Martin, wawasan tersebut bisa memperluas sudut pandang mahasiswa bidang apapun, termasuk engineering.

"Sebenarnya (dalam cakupan luas) banyak hal berkaitan dengan engineering. Di bidang saya (fisika), misalnya, saat kami mau membuat eksperimen baru, biasanya kita butuh mengembangkan teknologi baru pula," kata Martin.

Halaman:
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X