Pemerintah Genjot Infrastruktur, Insinyurnya Mana?

Kompas.com - 29/04/2016, 20:24 WIB
Ilustrasi foto profesi insinyur ThinkstockIlustrasi foto profesi insinyur
|
EditorPalupi Annisa Auliani

KOMPAS.com – Babe Sabeni punya obsesi, Si Doel—anaknya—tak jadi sopir oplet—angkutan umum—seperti dirinya. Meski tak lazim di kampungnya, Sabeni mati-matian membiayai kuliah Doel di jurusan teknik mesin. Sabeni ingin anaknya menjadi “tukang insinyur”.

Alhamdulillah anak gue sudah jadi sarjana! Hai, orang kampung, Si Doel udah jadi tukang insinyur! Siapa bilang anak Betawi tidak bisa jadi insinyur?” ujar Babe Sabeni yang diperankan seniman Benyamin Sueb, begitu tahu Doel yang diperankan Rano Karno sudah resmi bergelar insinyur, dalam salah satu adegan sinetron itu.

Bagi penonton televisi era 1990-an, sepenggal cerita itu akan langsung menghadirkan serial “Si Doel Anak Sekolahan” di ingatan. Pada satu masa, orang Betawi cenderung dianggap “kampungan”, tak pernah bersekolah tinggi, apalagi menjadi “tukang insinyur” alias sarjana teknik.

Terlepas dari cerita si Doel, profesi insinyur sampai saat ini memang masih menjadi barang langka di Indonesia. Meskipun gelar insinyur punya kesan “berkelas”, data menunjukkan program studi terkait teknik dan sains tetap sepi peminat.

Bahkan, menurut Ketua Umum Pengurus Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI) Marzan Aziz Iskandar, bila dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN dan Asia, jumlah mahasiswa teknik di Indonesia adalah yang paling sedikit.

”Dari seluruh mahasiwa di Indonesia, hanya 15 persen yang menuntut ilmu di bidang teknik. Bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 24 persen, Korea 33 persen, dan Tiongkok 38 persen,” ujar Marzan, seperti dikutip harian Kompas, Jumat (3/3/2016).

KOMPAS/DWI BAYU RADIUS Pegawai Krakatau Steel memantau pembuatan lembaran baja panas di Cilegon, Banten, Jumat (24/4/2015). Cilegon sebagai kota industri banyak menarik investor berkat kelengkapan infrastruktur, seperti jalan tol, pelabuhan, dan stasiun kereta. Kota itu dikenal sebagai penghasil baja.

Rendahnya minat kaum muda terhadap jurusan teknik juga terlihat dari rilis Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kemristek dan Dikti pada Maret 2016 . Data itu menyebutkan, saat ini ada lebih dari 5 juta mahasiswa tetapi hanya sekitar 1,5 juta di antaranya yang mengambil jurusan sains-teknik, dengan selebihnya mengambil bidang sosial-humaniora.

Minim penghargaan

Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Hermanto Dardak menambahkan, sarjana teknik yang jumlahnya sudah sedikit itu pun sebagian di antaranya memilih bekerja di bidang lain. Menurut dia, minimnya penghargaan terhadap profesi insinyur adalah alasan di balik kedua fenomena itu.

Hermanto berpendapat, kondisi tersebut ditengarai tak lepas dari belum adanya sistem registrasi dan sertifikasi yang terintegrasi antara satu sub-bidang teknik dengan sub-bidang teknik lain. Sebagai akibatnya, insinyur lokal tidak mendapat cukup pengakuan dan kepercayaan dari pengguna tenaga kerja.

Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X