Kompas.com - 18/05/2016, 23:14 WIB
Jumpa pers pendaftaran SBMPTN di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta, Jumat (22/4/2016). KOMPAS.com/SRI NOVIYANTIJumpa pers pendaftaran SBMPTN di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta, Jumat (22/4/2016).
|
EditorPalupi Annisa Auliani

JAKARTA, KOMPAS.com – Pertama kali diadakan, ujian terkomputerisasi untuk Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016 diserbu peminat. Kuota sistem ujian yang dikenal dengan nama computer based testing (CBT) ini ludes hanya dalam waktu sepekan sejak dibuka.

“Kaget kami (panitia). Karena (CBT adalah sistem) baru, dikira akan sepi peminat,” ujar Ketua Umum SBMPTN 2016 Rochmat Wahab, Senin (9/5/2016).

Kata Rochmat, kuota seleksi menggunakan CBT bahkan sudah habis sejak tiga hari atau empat hari pembukaan pendaftaran. (Baca juga: Siap-siap, Ada yang Beda di SBMPTN 2016!)

“Ini membuktikan antusiasme para calon peserta,” ujar Rochmat.

CBT adalah ujian yang diselenggarakan menggunakan alat bantu komputer. Peserta ujian tak lagi berkutat dengan kertas lembar jawab, seperti yang dilakukan pada paper based testing (PBT), tetapi semua dikerjakan di komputer.

Menggunakan CBT, peserta seleksi akan membaca soal di layar komputer dan mengisi jawabannya di sana pula. Soal akan muncul satu per satu secara berurutan sesuai nomor soal, untuk memudahkan peserta untuk menjawabnya.

Jika di tengah jalan ingin mengubah jawaban, para peserta tinggal mencari kembali nomor soal yang dimaksud dan mengisikan jawaban yang baru.

Lebih efisien

Soal infrastrukur pendukung CBT pada SBMPTN 2016, panitia akan menggunakan fasilitas yang ada di perguruan tinggi negeri. Peserta yang memilih sistem seleksi ini pun baru sebatas yang memilih kelompok ujian Sains dan Teknologi (Saintek) dan Sosial Humaniora (Soshum).

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Ilustrasi ujian berbasis komputer.

Sudah ada 30 perguruan tinggi negeri yang ikut memfasilitasi CBT. Durasi pengerjaan pada jenis seleksi ini tidak berbeda dengan sistem PBT. Memakai sistem terkomputerisasi ini, kata Rochmat, peserta bisa memanfaatkan waktu ujian dengan efektif.

“Karena (peserta) tak perlu sibuk menghitamkan jawaban di kertas, pasti waktu tersisa pun lebih lama. Harusnya, sistem ini lebih efisien,” ujar Rochmat.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.