Jari Ajaib Steve

Kompas.com - 28/05/2016, 15:35 WIB
CEO Apple Steve Jobs pada peluncuran iPhone baru tanggal 9 Januari 2007 di San Francisco, California. BBCCEO Apple Steve Jobs pada peluncuran iPhone baru tanggal 9 Januari 2007 di San Francisco, California.
EditorTri Wahono

WAJAH dunia Abad-21 berubah total lantaran ulah nyeleneh segelintir manusia. Satu di antaranya oleh Steve Jobs. Ya, Steve si empunya banyak ide "pekerjaan" sesuai nama yang ia sandang ini, telah berhasil menorehkan sejarah hidupnya dengan tinta emas. Atas daya jelajah kreatifitasnya yang tinggi, kita berutang sedemikian besar: utang peradaban.

Steve memudahkan kita dengan komputer brilian buatannya bersama Wozniak: iMac. Ia juga membantu kita berkomunikasi secara elegan dengan iPhone. Tak cukup puas, ia menggalang iTunes. Masih tak lega hatinya, ia buatkan kita studio Pixar dengan film-film berkelas.

Ternyata masih ada iCloud, lemari data yang lazim disebut komputasi awan. Satu-dua dekade ke depan, semua manusia akan sangat bergantung pada sistem yang menawan ini. Semoga Tuhan menempatkan Steve dalam surga-Nya yang ma'wa.

Namun bukan soal itu yang akan saya soroti. Saat Steve berstatus al-Marhum pada 2011 silam, saya mulai membacai kisah hidupnya yang mengagumkan dalam buku tebal karangan Walter Issacson.

Steve beroleh anugerah besar dari Tuhan hanya karena sebuah apel. Buah yang sama, pernah membuat Adam terdepak dari surga dan tersungkur ke Bumi. Pernah juga membuat al-Khazini (bukan Newton) menemu medan gravitasi. Maka dalam hal apel inilah, Steve sungguh diberkahi.

Saya membuktikan itu saat menemukan sebuah petikan dialog Steve dengan salah seorang insinyur desainnya di Apple. Secara tangkas ia meledek insinyur pembuat ponsel dari perusahaan lain yang menggunakan stylus dengan ucapan, "Tuhan sudah memberi kita sepuluh stylus. Kenapa hanya satu saja yang mereka gunakan?"

Pagi ini, ucapan Steve itu kembali bergaung dari mulut seorang maestro Tari Topeng Panji, Yoyoh Siti Mariah, yang sudah sejak lama diberi kesaktian oleh Tuhan, masak cepat tanpa resep--dan enak. Saya telah membuktikan ujaran sang maestro yang lazim kami panggil mimi ini, setelah berulangkali menginap di rumahnya yang adem nan sederhana, di Kota Kembang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ledekan Steve untuk para pembuat stylus itu sempat saya selorohi di hadapan kawan seperasapan, bahwa Steve takkan menemukan jalan keluar dari ejekannya itu bila ia tak menyempatkan diri makan di warung tegal (warteg).

Sebab di seantero dunia, hanya di warung inilah para pemesan tak membutuhkan daftar menu. Cukup dengan menempelkan jari telunjuk ke kaca lemari masakan, maka sepinggan nasi yang dipesan pun siap terhidang--lengkap dengan lauk-pauknya.

Menyaksikan ini, duo Steve (Jobs dan Wozniak) pun melongo. Secepat kilat mereka habiskan makanan. Lalu membayar dan pulang ke Palo Alto, California. Maka jadilah ponsel layar sentuh yang secara nginggris sering disebut touchscreen.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.