A Bobby Pr

Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) ini menekuni penulisan buku biografi. Sejak di bangku kuliah ia sudah menulis buku dan membuat majalah. Beberapa karyanya yang sudah dibukukan antara lain Ny. Lie Tjian Tjoen: Mendahului Sang Waktu (2014); Mgr. Michael Cosmas Angkur OFM: Pemimpin Sederhana (2014); Pater Wijbrans OFM: Memberi Teladan Tanpa Kata, (2010); Mgr. Hermelink: Setelah 27 Tahun Dimakamkan Jenazahnya Masih ‘Utuh’ (2010); Jurnalistik: Bakat? Buang ke Laut (2009).

Loh, Kok Rektor Asing?

Kompas.com - 15/06/2016, 13:03 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorWisnubrata

Tiga minggu sebelum Menristek dan Dikti Muhammad Nasir melemparkan ide tentang rektor asing, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menghadiri peluncuran buku Inspirasi Kebangsaan dari Ruang Kelas di Jakarta.

Buku yang ditulis oleh redaktur senior Kompas St. Sularto itu mengungkapkan tiga sosok pelopor pendidikan; Willem Iskander (1840-1876), Ki Hadjar Dewantara (1889-1959), dan Engku Mohammad Syafei (1893-1969).

Anies mengaku terpesona dengan buku ini. Meskipun saat itu Indonesia masih berupa imajinasi, tokoh-tokoh ini berdiri dengan penuh rasa percaya diri meletakkan dasar pendidikan nasional.

Oleh karena itu, dia menyarankan para penggiat pendidikan harus sering menengok kembali gagasan yang pernah dilahirkan oleh para tokoh pendidikan.

Himbauan yang disampaikan Anies sangat relevan untuk hari-hari belakangan ini.

Seperti kita ketahui Muhammad Nasir mewacanakan akan merekrut orang asing menjadi rektor perguruan tinggi negeri (PTN). Wacana ini digulirkan untuk mengikuti negara lain yang menerapkan kebijakan itu sehingga kampusnya berkelas dunia.

Alasan lebih lanjut, negara-negara yang melakukan kebijakan itu dulunya tidak diperhitungkan, sekarang sudah masuk peringkat 200 dunia.

Di tengah pro kontra gagasan ini, sebaiknya Nasir perlu membaca buku Inspirasi Kebangsaan dari Ruang Kelas. Harganya tak lebih mahal dari pada makanan cepat saji produk luar negeri.

Dari buku itu akan terlihat bahwa ketiga tokoh pendidikan masa lalu itu telah berpikir dan berbuat jauh mendahului zamannya.

Ketiga tokoh itu menempatkan pendidikan dan pengajaran sebagai bagian dari proses kemandirian, kemerdekaan, dan kemartabatan.

Salah satu contoh disodorkan Anies dalam awal sambutan di buku Sularto.

“Beberapa tahun belakangan ini dunia mengalami demam pendidikan Finlandia, termasuk di Indonesia. Begitu banyak artikel, kajian, dan percakapan di media sosial yang mengangkat betapa indahnya prinsip-prinsip pendidikan Finlandia. Namun tak banyak yang menyadari, apa yang sering diungkapkan sebagai konsep pendidikan Finlandia sesungguhnya sudah banyak dituliskan oleh Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama, sejak hampir seabad yang lalu.”

Tentu Nasir belum lupa, Indonesia pernah mengirimkan para guru dan dosen ke Malaysia padahal baru merdeka 25 tahun. Dan, jangan lupa Petronas, perusahaan minyak Malaysia, juga dulu menimba ilmu dari Pertamina.

Namun, satu dekade kemudian kondisi yang terjadi sebaliknya. Banyak mahasiswa kita yang berguru ke negeri tetangga itu.

Gagasan untuk mengimpor rektor asing, menimbulkan berbagai pertanyaan: loh, kok orang asing? Apakah bangsa kita tidak sanggup menyelesaikan sendiri? Bukankah dalam perjalanan sejarah bangsa, para tokoh telah melahirkan gagasan-gagasan yang luar biasa dalam bidang pendidikan?

Oleh karena itu kita tentu memahami tanggapan keras Guru Besar UIN Azyumardi Azra terhadap usulan Nasir yang seolah menempatkan rektor lokal tidak mampu membenahi PTN.

“Mengimpor rektor dari mancanegara malah bisa menjadi kontraproduktif karena merupakan pelecehan terhadap kemampuan anak bangsa sendiri,” tulis Azyumardi Azra di Kompas (11/6) lalu.

Persoalan kualitas pendidikan tinggi kita sebenarnya sudah terang benderang. Banyak ahli sudah urun rembuk dan mengungkapkan secara gamblang lewat seminar maupun media massa.

Beberapa yang telah dikemukakan antara lain: kualitas tenaga pengajar masih rendah, mahasiswa belum bebas berekspresi, tuntutan akademik terlalu padat, gaji dosen rendah sehingga nyambi berbagai tempat, fasilitas pendidikan belum memadai, kualitas dan kuantitas tenaga peneliti masih kurang, publikasi ilmiah sedikit, anggaran pendidikan masih kecil, biaya kuliah tinggi, relevansi perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan industri masih lemah, dll.

Belum lagi masalah regulasi yang perlu dikupas tuntas untuk memberi ruang demi perkembangan PTN kita di tengah persaingan global.

Persoalan-persoalan itulah yang harus diselesaikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita. Mengangkat warga negara asing menjadi rektor PTN bukanlah solusi tepat karena masalah pendidikan tidak terpisah dengan persoalan nilai-nilai budaya.

Tentu saja ada anak bangsa yang mampu memperbaiki kualitas pendidikan bila diberi ruang dan didukung untuk melakukannya secara menyeluruh.

Dari berbagai permasalahan itu, menarik salah satu contoh yang disampaikan oleh seorang guru besar perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Dia menceritakan lembaganya sempat memiliki peneliti sekitar 40 orang. Memasuki tahun 2000 jumlah peneliti mulai dikurangi.

Enam tahun kemudian, tidak ada satu pun peneliti meski masih memiliki lembaga penelitian. Kondisi ini terjadi hanya karena kebijakan ‘dari atas’ yang menyangkut status pangkat dosen dan peneliti.

Persoalan-persoalan itulah yang harus diselesaikan. Obatnya tidak perlu kita cari jauh-jauh dari negeri seberang karena the founding fathers telah memberikan banyak catatan berharga dalam meletakkan pondasi pendidikan nasional.

Tugas kitalah yang harus menggali pemikiran mereka dan  kemudian menyesuaikannya dengan situasi sekarang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.