Apa Sih Makna Lomba "17 Agustusan"?

Kompas.com - 15/08/2016, 17:32 WIB
Panjat pinang di Ecopark, Ancol Taman Impian, saat Peresmian Ecomarket dalam Memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke 68, Sabtu (17/8/2013). ARSIP ANCOL TAMAN IMPIANPanjat pinang di Ecopark, Ancol Taman Impian, saat Peresmian Ecomarket dalam Memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke 68, Sabtu (17/8/2013).
|
EditorLatief


KOMPAS.com
– Di banyak daerah, perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus jamak dirayakan dengan beragam lomba. Perlombaan "17 Agustusan" tersebut di antaranya panjat pinang, makan kerupuk, dan balap karung.

Bukan sekadar lomba, tapi panitia penyelenggara biasanya juga menyiapkan hadiah untuk para pemenangnya. Lelaki, perempuan, dan anak-anak ikut berpartisipasi.

Namun, meski dilakukan hampir setiap tahun, tak banyak masyarakat Indonesia sadar asal mula tradisi perayaan 17 Agustus tersebut. Padahal, beberapa jenis perlombaan sebenarnya punya sejarah dan filosofi tersendiri. Dari mana awal mulanya?

Hingga kini tidak diketahui pasti siapa tokoh pelopor tradisi perlombaan untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Yang pasti, perlombaan "17 Agustusan" mulai jamak dilakukan sekitar tahun 1950-an.

Peperangan mempertahankan kemerdekaan kala itu mulai surut. Ibu kota negara yang sempat dipindahkan ke Yogyakarta kembali ke Jakarta.

KOMPAS.com/Mei leandha Lomba makan kerupuk sambil melawan arus Sungai Deli pada HUT ke 70 Indonesia

Masyarakat pun ingin merayakan kemerdekaan yang sangat sulit diraih dan dipertahankan itu. Beragam lomba spontan dilakukan, mulai dari panjat pinang, lomba makan kerupuk, tarik tambang, sampai balap karung.

"Tapi perlombaan itu merupakan comotan dari masa Belanda dan terutama zaman (penjajahan) Jepang yang ditambah dengan aneka lomba baru," kata sejarawan J J Rizal saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (13/8/2016).

Panjat pinang misalnya, lanjut Rizal, sudah terlihat di gambar-gambar masa kolonial Belanda. Ulang tahun Djawa Baroe—tepat saat Jepang datang pada Maret 1942—juga dirayakan dengan lomba-lomba seperti tarik beban berat atau lomba kuda-kuda.

"Jadi lomba-lomba itu persambungan dari masa sebelum kemerdekaan yang diperkaya dan diberikan isi baru untuk mengenang momen sejarah baru," tutur Rizal.

Dalam perjalanannya, perlombaan lalu diadakan untuk merayakan kemerdekaan Indonesia.

"Bukan untuk menghormati Ratu Belanda atau kedatangan Jepang lagi, tapi lahirnya Indonesia," ujarnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X