Kompas.com - 18/08/2016, 17:43 WIB
KPTIK didukung hampir semua organisasi di bidang TIK dan para pakar TIK dari segala bidang, mulai software dan hardware, internet, telekomunikasi dan banyak lagi. Komite ini baru saja menggagas berdirinya Dok KPTIK KPTIK didukung hampir semua organisasi di bidang TIK dan para pakar TIK dari segala bidang, mulai software dan hardware, internet, telekomunikasi dan banyak lagi. Komite ini baru saja menggagas berdirinya "Cyber Maestro Center" atau CMC.
Penulis Latief
|
EditorLatief

JAKARTA, KOMPAS.com - Kesiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia untuk mencapai target ekonomi digital masih menjadi kendala besar. Indonesia masih sangat kekurangan SDM kompeten untuk mengelola industri TIK.

Demikian dikatakan Ketua Komite Penyelarasan Teknologi Informasi dan Komunikasi (KPTIK) pada diskusi "HUT ke-71 Kemerdekaan RI dan Belum Merdekanya Industri dan Pendidikan Teknologi, Informasi dan Komunikasi di Tanah Air" di kantor Cyber Maestro Center, Jakarta, Kamis (18/8/2016).

Dedi menyoroti dua masalah atau isu utama pada dunia TIK di Indonesia saat ini. Pertama definisi TIK yang masih carut-marut. Kedua kesiapan SDM untuk menyambut gegap gempitanya pesta-pora dalam industri TIK itu sendiri.

"Banyak salah kaprah membuat defini soal e-warung, smart city, digital business, dan banyak lagi yang lainnya. Semua orang bisa membuat definisi sendiri, padahal belum tentu definisi itu benar. Anehnya tidak ada mau teriak soal definisi-definisi ini," ujar praktisi TIK tersebut.

Untuk itu, lanjut Dedi, para praktisi TIK yang tergabung dalam KPTIK perlu menyelaraskan kesalahpahaman tersebut, termasuk soal ekonomi digital itu sendiri.

"Soal TIK ini belum satu suara, itu dari hulu ke hilir. Strategi tidak kelihatan, padahal master plan TIK ini sudah dibuat, tapi tidak ada implementasinya, sementara ekonomi digital itu sudah digagas dan ada targetnya," kata Dedi.

Seperti diketahui, pada saat berkunjung ke Amerika Serikat bulan Februari 2016 lalu, Presiden mengangkat konsep ekonomi digital sebagai topik utama. Nilai potensi ekonomi digital Indonesia pada 2020 akan mencapai 130 miliar dollar AS atau sekitar Rp 169 triliun dengan kurs Rp 13.000 per dollar AS. Jika konsep itu berjalan dengan baik, nilai itu akan tercapai.

"Tapi bagaimana caranya untuk mencapai itu, ya lewat SDM yang mumpuni. Ekonomi digital kan butuh banyak SDM, dalam hal ini adalah lulusan SMK yang paling tepat dijadikan operator digital itu," ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, ada sekitar 4,4 juta siswa SMK yang bisa menjadi generasi siap pakai. Tenaga kerja lulusan SMK itulah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pemerintah dalam mewujudkan visi ekonomi digital itu secara cepat, selain ada sumber SDM melalui BLK (Balai Latihan Kerja) dengan menyasar generasi muda tamatan SD/SMP yang merupakan 62%  dari angkatan kerja.

"Sebaliknya, kondisi yang ada sekarang ini banyak lulusan SMK belum terserap industri, malah ingin kuliah. Mau kemana mereka setelah lulus bersaing dengan SMA? Di sisi lain, kesiapan guru dan kurikulum yang ssesuai tandar industri TIK masih harus dibenahi. Untuk itu, butuh pelatihan-pelatihan khusus untuk mengejar akselerasi itu," papar Dedi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X