Anak dengan Disleksia dan Autisme Tetap Bisa Sukses

Kompas.com - 03/10/2016, 17:52 WIB

KOMPAS.com – Siswa berkebutuhan khusus, misalnya anak dengan autisme dan disleksia, seringkali dianggap belum mendapat layanan pendidikan yang memadai. Dikutip dari kemendikbud.go.id pada2015, dari 1,6 juta anak berkebutuhan khusus baru 164.000 yang mendapat pelayanan pendidikan.

Artinya, baru 10-11 persen siswa dengan autisme dan disleksia yang terakomodasi. Hal ini menyebabkan mereka kesulitan memilih sekolah dan mendapat porsi pendidikan yang tepat.

"Kesalahan orangtua, ketika tahu anaknya didiagnosis disleksia atau autisme, langsung mendaftarkannya ke sekolah internasional. Padahal, anak dengan kondisi tersebut sebaiknya jangan diajarkan bahasa asing dulu," ujar Sumarsono, CEO & Founder Elite Tutors Indonesia, Rabu (7/9/2016).

Sumarsono melanjutkan bahwa siswa sebaiknya belajar di sekolah yang menggunakan bahasa tunggal terlebih dahulu. Bahasa ibu pun sebaiknya dilatih secara konsisten ketika di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan bermain agar anak mudah menerima pengetahuan nantinya.

Salah satu alternatif pendidikan serupa sekolah reguler yang dapat dipilih adalah sekolah inklusi. Di sana, siswa berkebutuhan khusus diajar dalam kelas bersama siswa lainnya agar dapat mencontoh langsung dan termotivasi untuk mengoptimalkan potensi mereka.

Meski, seperti dilansir oleh Kompas.com, (15/4/2012), sekolah tersebut belum cukup memenuhi persyaratan dari segi pengajar. Hal ini dapat diimbangi dengan memberikan pelatihan mengenai metode penanganan siswa dengan autisme dan disleksia untuk para guru.

 

Sebenarnya, poin utama ketika memberikan pendidikan pada anak dengan autisme dan disleksia adalah tidak memaksakan sekolah formal jika anak dianggap belum siap. Pastikan mereka tidak memiliki masalah kemampuan kognitif, tingkah laku, dan mampu mengikuti tuntutan sekolah.

Menurut ahli psikologi perkembangan anak, Adriana S Ginanjar, orangtua pun harus jeli akan penerimaan siswa di sekolah formal terhadap murid dengan autisme dan disleksia. Pasalnya, tak jarang mereka mengalami penindasan oleh teman-temannya karena dianggap berbeda.

Tak hanya itu, psikolog tersebut juga mengatakan bahwa jumlah siswa di sekolah inklusi masih terlalu banyak sehingga pengajaran tidak terfokus. Idealnya, satu kelas hanya boleh berisi 20 murid, sementara kenyataannya masih terdapat 40 anak dalam satu kelas.

Pembelajaran private

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X