Hasanudin Abdurakhman
Doktor Fisika Terapan

Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta.

Refleksi dari “To Do List”

Kompas.com - 04/10/2016, 19:35 WIB
Daya ingat pada saat menulis dirangsang dengan adanya gerakan tangan. Menulis juga mengizinkan Anda mencerna informasi sebelum dicatat. ThinkstockDaya ingat pada saat menulis dirangsang dengan adanya gerakan tangan. Menulis juga mengizinkan Anda mencerna informasi sebelum dicatat.
EditorWisnubrata

To do list adalah daftar tugas-tugas yang harus dikerjakan pada suatu rentang waktu. Biasanya dibuat harian, mingguan, atau bulanan. Ini adalah bagian dari perencanaan.

To do list bisa dibuat untuk tim, atau untuk pribadi. Tentu saja daftar ini tidak harus dibuat dalam bentuk tertulis. Kita bisa saja mengagendakan pekerjaan-pekerjaan kita dalam memori otak kita, tanpa mencatatnya.

“To do list” bukanlah soal bentuk fisik catatannya, tapi substansinya, yaitu kita merencanakan untuk melakukan sesuatu pada suatu rentang waktu.

Nah, pernahkah Anda menganalisa isi “to do list” Anda? Sadarkah Anda bahwa “to do list” banyak mencerminkan siap diri Anda, dan bagaimana karakter Anda dalam bekerja?

Berikut beberapa hal yang bisa Anda pahami dari “to do list” Anda.

1. Tidak punya “to do list”, atau daftarnya kosong. Artinya Anda tidak punya rencana apapun. Anda tidak terbiasa hidup dengan perencanaan, atau memang tidak ingin mengerjakan apapun. Kok bisa? Mungkin Anda tidak peduli dengan hidup Anda.

Ada begitu banyak orang hidup tanpa tujuan, tanpa target. Hidup hanya mengalir, mengikuti bertambahnya waktu. Ia berharap pada kebetulan-kebetulan yang menghampirinya. Bila ada kebetulan yang menguntungkan, maka ia mendapat sedikit keuntungan. Bila tidak, ia akan menjadi pecundang seumur hidup. Saya berharap Anda tidak begitu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

2. Penuh dengan tugas-tugas kemarin, atau minggu lalu. Atau, penuh dengan tugas-tugas mendesak. Itu artinya Anda sering lalai dalam melaksanakan tugas, tidak patuh pada tenggat waktu. Besar kemungkinan karena Anda lambat dalam bekerja, atau Anda sering menunda pekerjaan. Anda adalah orang yang bermasalah dalam pengelolaan waktu.

Benahi sistem kerja Anda. Kerjakan tugas dengan cepat. Hentikan kebiasaan menunda.

3. Penuh dengan tugas dari orang lain. Artinya Anda seorang bawahan, atau seorang penunggu perintah. Anda belum jadi pengambil inisiatif. Anda menunggu tugas dibebankan oleh orang lain kepada Anda. Waktu Anda mungkin akan habis dipakai untuk melayani orang.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.