Mau Kuliah di Belanda Tak Perlu "Galau"!

Kompas.com - 09/11/2016, 16:22 WIB
Pelajar Indonesia yang tertarik kuliah ke Belanda mendatangi pameran pendidikan Dutch Placement Day 2016 di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat (4/11/2016). KOMPAS.com/CAHYU CANTIKAPelajar Indonesia yang tertarik kuliah ke Belanda mendatangi pameran pendidikan Dutch Placement Day 2016 di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat (4/11/2016).
|
EditorPalupi Annisa Auliani

Impian itu sempat ditentang orangtuanya. Namun, Chris membuktikan diri dengan menyelesaikan program sarjana bidang ekonomi tepat waktu, dari 2011 sampai 2015, lewat jalur "win-win solution" bagi dirinya dan orangtuanya.

"Orangtua ingin saya kuliah di universitas negeri di Indonesia. Jadilah saya mengambil program double degree di Universitas Indonesia sebagai jalan tengah," kata Chris yang hadir dalam acara sama sebagai salah satu perwakilan dari UvA.

Pada program ganda, perkuliahan tingkat sarjana dilakukan masing-masing dua tahun di universitas yang menjalankan kerja sama pendidikan itu. Dalam kasus Chris, studi dijalani dulu selama dua tahun di UI, lalu dia berangkat ke UvA untuk merampungkan dua tahun berikutnya kuliah di sana. Ketika lulus, dia mendapat dua gelar, yaitu dari UI dan UvA.

Setelah lulus pendidikan S1, Chris langsung melanjutkan studi S2 di UvA. Dia pun berhasil lulus dalam waktu satu tahun.

"Saya juga berniat balik lagi ke Belanda untuk bekerja di sana," kata Chris.

Beragam motivasi untuk melanjutkan studi ke Belanda terlontar dari pengunjung pameran pendidikan Dutch Placement Day 2016. Mirip dengan Chris, beberapa di antara mereka mengaku ingin mengecap pengalaman kuliah ke luar negeri.

"Sekalian juga pengin belajar kultur di sana (Belanda)," ucap Silvi, salah satu pengunjung, saat ditemui Kompas.com di sela aktivitasnya berkeliling mencari informasi dari perguruan tinggi di pameran tersebut.

Bertutur sambil menggenggam banyak brosur, dia mengaku datang ke pameran untuk mencari informasi terkait program master bidang psikologi yang diminatinya. Silvi juga mengatakan tak datang sendirian, tetapi bersama teman karibnya, Natasha.

"Kalau saya memang ingin kuliah di Eropa. Sudah dapat beasiswanya, tinggal mencari universitas saja. Datang ke sini karena mau cari tahu dulu kecocokan jurusan, biaya, intake (jadwal masuk kuliah). (Hal-hal) ini kan penting (diketahui)," ujar Natasha.

Lewat pameran tersebut, Bakker berharap para pelajar yang datang berkunjung mendapatkan gambaran nyata tentang perkuliahan di Belanda. Banyak informasi lebih baik didapat dari pihak perguruan tinggi secara langsung, seperti tingkat kemungkinan diterima kuliah atau alternatif pendanaan studi.

"Para perwakilan universitas akan mengecek latar belakang pendidikan mereka (pengunjung) lalu memberikan masukan-masukan secara langsung tentang mungkin atau tidaknya mereka diterima di universitas tersebut," jelas Bakker.

Nah, daripada merasa galau dengan kemampuan diri, lebih baik mencari informasi pasti mengenai kecocokan studi sebelum kuliah ke Belanda. Seperti kata Bakker, kuliah di luar negeri bukan hal mustahil, meski tantangan pun pasti ada. Semangat!

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X