Terkendala Anggaran, Mendikbud Akui Peran Pemerintah di PAUD Minim

Kompas.com - 25/11/2016, 14:56 WIB
Mentri Pendidikan Muhadjir Effendy diabadikan saat memberikan sambutan pembukaan 'International Mathematics and Science Olympic' (IMSO) 2016 di Hotel  Allium, Tangerang. Rabu (9/11/2016). Olimpiade matematika dan sains internasional tingkat sekolah dasar ini diikuti oleh peserta dari 22 Negara. Kompas.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELIMentri Pendidikan Muhadjir Effendy diabadikan saat memberikan sambutan pembukaan 'International Mathematics and Science Olympic' (IMSO) 2016 di Hotel Allium, Tangerang. Rabu (9/11/2016). Olimpiade matematika dan sains internasional tingkat sekolah dasar ini diikuti oleh peserta dari 22 Negara.
|
EditorBayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengakui bahwa pemerintah belum banyak berperan dalam pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Hal itu disampaikan Muhadjir saat menjadi pembicara dalam Kongres XVII Muslimat Nahdlatul Ulama di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (25/11/2016).

Ia mengatakan, ada dua hal yang membuat pemerintah belum banyak berperan dalam pengembangan PAUD.

"Pertama, karena anggarannya sangat terbatas. Kedua, karena wacana PAUD sebagai pendidikan baru berkembang di Indonesia," ujar Muhadjir.

Muhadjir pun memuji Menteri Sosial Khofifah Indra Parawansa yang juga Ketua Umum Muslimat NU, sebagai salah satu perintis PAUD.

"Perintisnya salah satunya Bu Mensos, saat itu banyak membantu Gus Dur (Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid)," kata dia.

Maka dari itu, lanjut Muhadjir, hingga saat ini justru masyarakat yang lebih dominan mengembangkan PAUD.

Muhadjir mencontohkan, data yang dihimpun pihaknya, tercatat untuk pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) di seluruh Indonsia yang dikelola pemerintah hanya sekitar 3.180.

Padahal, jumlah TK yang dikelola pihak swasta sebanyak 82.000.

"Jadi sebagian besar memang masyarakat yang berperan. Karena itu negara selama ini hanya bisa memberikan semacam dorongan fasilitas, bantuan bantuan yang jumlahnya tidak terlalu banyak," kata dia.

"Peranan masyarakat di PAUD ini sangat besar, negara hampir-hampir selama ini belum punya peranan," ujar Muhadjir.

Meski demikian, pemerintah tetap berusaha agar ke depan bisa lebih berperan terkait PAUD. Sebab, PAUD menjadi dasar dalam pengembangan karakter seseorang dan hal itu harus dimulai dari usia dini.

"Kalau pendidikan budi pekerti, atau karakter itu jadi pondasi maka bangunan di atasnya tidak akan mudah roboh. Kalau pondasinya kuat maka bangunan di atasnya tidak akan roboh, ambruk, apalagi kalau diterjang pengaruh asing kita tahan banting, itulah pentingnya pendidikan karakter," kata dia.

Ia menambahkan, pemerintah akan terus dan tetap memperhatikan pendidikan anak-anak.

"Karena yang sekarang sudah tersistem dalam sistem kita itu pada pendidikan dasar, maka kementerian leboh fokus pada pendidikan dasarnya, yakni SD dan SMP," kata Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Skor PISA 2018, Ari Widowati: 'Alarm Keras' untuk Segera Lakukan Perubahan

Skor PISA 2018, Ari Widowati: "Alarm Keras" untuk Segera Lakukan Perubahan

Edukasi
10 Tanggapan 'Mas Menteri' Soal 'Rapor Merah' Skor PISA Indonesia

10 Tanggapan "Mas Menteri" Soal "Rapor Merah" Skor PISA Indonesia

Edukasi
Skor PISA Melorot, Disparitas dan Mutu Guru Penyebab Utama

Skor PISA Melorot, Disparitas dan Mutu Guru Penyebab Utama

Edukasi
Soal Skor PISA 2018, Mendikbud Nadiem: Tidak Perlu Dikemas agar Jadi Berita Positif

Soal Skor PISA 2018, Mendikbud Nadiem: Tidak Perlu Dikemas agar Jadi Berita Positif

Edukasi
Skor PISA 2018: Peringkat Lengkap Sains Siswa di 78 Negara, Ini Posisi Indonesia

Skor PISA 2018: Peringkat Lengkap Sains Siswa di 78 Negara, Ini Posisi Indonesia

Edukasi
Skor PISA 2018: Daftar Peringkat Kemampuan Matematika, Berapa Rapor Indonesia?

Skor PISA 2018: Daftar Peringkat Kemampuan Matematika, Berapa Rapor Indonesia?

Edukasi
Daftar Lengkap Skor PISA 2018: Kemampuan Baca, Berapa Skor Indonesia?

Daftar Lengkap Skor PISA 2018: Kemampuan Baca, Berapa Skor Indonesia?

Edukasi
Data Scientist Indonesia Masih Langka, Ini Kemampuan yang Wajib Dimiliki

Data Scientist Indonesia Masih Langka, Ini Kemampuan yang Wajib Dimiliki

Edukasi
Universitas dan Industri Perlu Berkolaborasi Aktif Siapkan SDM

Universitas dan Industri Perlu Berkolaborasi Aktif Siapkan SDM

Edukasi
ITB Juara 'Huawei ‘ICT Competition 2019-2020' Tingkat Nasional

ITB Juara "Huawei ‘ICT Competition 2019-2020" Tingkat Nasional

Edukasi
Mengawal Mutu Pendidikan Tanpa Mengorbankan Kemerdekaan Belajar

Mengawal Mutu Pendidikan Tanpa Mengorbankan Kemerdekaan Belajar

Edukasi
Eksistensi Platform Indonesiana, Saat Ini dan Masa Mendatang

Eksistensi Platform Indonesiana, Saat Ini dan Masa Mendatang

Edukasi
Suka K-Pop? Jurusan Sastra Korea Mungkin Cocok buat Kamu, Ini Penjelasannya

Suka K-Pop? Jurusan Sastra Korea Mungkin Cocok buat Kamu, Ini Penjelasannya

Edukasi
Hari Disabilitas, Atma Jaya: Mendorong Indonesia Ramah Disabilitas

Hari Disabilitas, Atma Jaya: Mendorong Indonesia Ramah Disabilitas

Edukasi
Soal Wacana Tiga Hari Sekolah, Bukik Setiawan: Hari Sekolah Bukan Esensi

Soal Wacana Tiga Hari Sekolah, Bukik Setiawan: Hari Sekolah Bukan Esensi

Edukasi
Close Ads X