Bersyukur Itu Menemukan Diri Sendiri

Kompas.com - 17/01/2017, 13:12 WIB
Thinkstockphotos Ilustrasi

Ada teman saya yang dengan sinis mengatakan,”Bersyukur itu ndingkluk. Artinya merendahkan standar harapan kita. Dengan begitu, kita akan merasa bahwa kita sudah mendapat lebih. Lalu kita merasa senang.”

Contohnya, kita lihat orang-orang miskin, atau orang-orang yang hidupnya menderita. Lalu kita lihat diri kita, ternyata kita lebih baik. Lalu kita merasa senang. Itulah bersyukur.

Pernah saya temukan meme yang menjengkelkan. Isinya tentang anak yang (terpaksa) berjualan, untuk menyambung hidupnya. Meme diakhiri dengan pertanyaan, masihkah kamu tidak bersyukur?

Lha, apa hubungannya? Orang diajak bersyukur setelah melihat penderitaan orang lain. Bersyukur artinya merasa senang bahwa kita tidak menderita seperti dia. Syukur macam apa itu?

Suruhan untuk bersyukur juga sering datang ketika seseorang tidak puas dengan keadaannya. “Sudah, jangan banyak menuntut, syukuri yang sudah kau dapat!”

Apakah bersyukur bermakna bahwa kita tidak boleh berharap mendapat yang lebih baik lagi? Apakah menginginkan yang lebih baik selalu bermakna bahwa kita tidak bersyukur atas apa yang kita dapat?

Bagi saya, bersyukur tidak begitu maknanya. Bersyukur itu menyadari diri kita sendiri. Coba lihat diri kita. Kita punya tubuh, seadanya tubuh kita ini. Kita punya 2 tangan, 2 kaki, dan berbagai organ lain.

Ada yang hanya punya 1 tangan, atau bahkan tidak punya tangan. Juga ada yang hanya punya 1 kaki, atau tidak punya kaki. Setiap orang mengenali dirinya, secara apa adanya. Inilah saya. Saya adalah saya, bukan orang lain.

Lalu, kita lihat diri kita lebih lanjut. Apa lagi yang kita miliki? Ada yang pandai matematika. Ada yang pandai main musik. Ada pula yang kuat badannya, mampu lari cepat, lari jauh, atau kuat mengangkat barang. Masing-masing orang punya kelebihan. Temukan kelebihan kita sendiri.

Banyak orang yang tidak tahu apa kelebihannya. Ia menjadi orang yang biasa saja, atau bahkan menganggap dirinya terbelakang. Lalu ia menjadi rendah diri. Ia tak merasa layak berdiri bersama manusia lain. Ia mungkin protes pada Tuhan. “Kenapa Kauciptakan aku seperti itu?”

Protes itu tak akan pernah mengubah keadaannya. Yang akan mengubah keadaan adalah cara dia memandang dirinya sendiri.

Pernah saya lihat acara di TV Jepang. Acara ini memberi kesempatan kepada orang-orang yang merasa ada bagian tubuhnya yang ingin ia ubah. Setelah diseleksi, yang disetujui akan dibiayai untuk melakukan operasi plastik.

Dalam suatu episode, ada gadis remaja yang merasa mukanya jelek. Ia ingin operasi plastik. Para pengisi acara itu tidak serta merta meluluskan permintaannya. Yang “dioperasi” justru mental gadis itu. Dengan sedikit polesan kosmetik, mereka berhasil membuat gadis itu tampil cantik. Ia diyakinkan bahwa ia sama sekali tidak jelek. Kemudian ia menjadi percaya diri.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorWisnubrata
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X