Hasanudin Abdurakhman
Doktor Fisika Terapan

Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta.

“Emakku bukan Kartini“, Cerita Perjuangan Perempuan Perkasa

Kompas.com - 14/02/2017, 13:43 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorWisnubrata

Perempuan sering dianggap makhluk lemah. Perempuan sering bersimpuh tak berdaya di hadapan kezaliman, atau tekanan sosial. Atau terhadap keadaan yang tak bersabahat. Apalah dayaku, karena aku hanya seorang perempuan.

Emakku hanya perempuan biasa. Ia bahkan tak pernah sekolah, karena di kampungnya dulu memang tak ada sekolah. Andai pun ada, Emak mungkin tak akan dapat kesempatan memasukinya. Karena ia hanya seorang perempuan. Perempuan tak perlu sekolah, tak perlu belajar. Ketika ada kesempatan belajar kajian sederhana, ayahnya melarangnya ikut serta.

Namun Emak tak menyerah pada kemiskinan yang membelitnya. Juga tidak pada ketiadaan yang ia hadapi. Meski tak pernah sekolah, cakrawalanya terbentang jauh melampaui pulau kecil tempat kampungnya berada. Ia punya cukup kesadaran bahwa pendidikan adalah jalan untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Hijrah adalah langkah pertama yang diambil Emak. Ia ajak suaminya, seorang buruh tani, untuk pindah kampung, ke tempat di mana mereka berdua bisa punya tanah. “Tanah adalah modal dasar hidup kita,” katanya.

Saat memegang kapak untuk merimba, menebang pohon, membuka lahan untuk dijadikan ladang, Emak sama perkasanya dengan lelaki manapun di dunia ini. Ayunan kapaknya berdesing saat melewati udara, menghujam dalam, melukai pohon perkasa.

Batang demi batang pohon bertumbangan, tunduk di bawah kakinya. Di kaki itulah lalu terbentang ladang garapan pemberi harapan. Di situlah berkembang padi, lalu kelapa yang menjadi penopang nafkah keluarga.

Kusaksikan sendiri ayunan parang Emak saat kami bersama menebas rumput-rumput yang menyelimuti kebun kelapa. Kupandangi pula ayunan cangkul dan penggalinya, saat ia menggali parit selokan di tengah kebun. Kunikmati pula belai tangannya saat ia menidurkanku.

Telapak tangan Emak bukanlah telapak tangan halus dengan jemari lentik. Telapak tangan itu kasar, tapi kokoh menjanjikan perlindungan bagi masa depan kami.

Emak berwatak keras. Ayahnya melarangnya belajar. Ia diam ketika itu. Tapi ia menyimpan dendam. “Tak ada yang boleh melarang kalau kelak anakku hendak kusekolahkan,” tekadnya.

Bahkan ketiadaan sekolah di kampung kami pun tak menghalanginya. Ia rela mendayung sampan 3 hari, pergi ke kampung pamannya, menitipkan anaknya sekolah di sana.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.