Meluncur dari Solo, Gerakan Mengaji Bareng di Kampus untuk Tekan Radikalisme

Kompas.com - 11/03/2017, 14:47 WIB
Peluncuran Gerakan Kampus Nusantara Mengaji di kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017) malam. Dok Gerakan Nusantara MengajiPeluncuran Gerakan Kampus Nusantara Mengaji di kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017) malam.
EditorPalupi Annisa Auliani


SOLO, KOMPAS.com
—Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir, Jumat (10/3/2017), meluncurkan Gerakan Kampus Nusantara Mengaji. Upaya ini diyakini dapat menjadi satu lagi cara untuk menekan radikalisasi.

"Saya yakin meng-khatam-kan Alquran dapat memperkuat mental mahasiswa serta meminimalisir gerakan radikalisme di kampus,” ujar Nasir, Jumat malam, seperti dilansir dalam siaran pers Gerakan Nusantara Mengaji.

Peluncuran Gerakan Kampus Nusantara Mengaji ini dilakukan di kampus Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah. Bersamaan, peluncuran di kampus yang dikenal dengan sebutan UNS tersebut juga menandai deklarasi gerakan serupa di 40 kampus negeri di seluruh Indonesia.

Nasir mengapresiasi Rektor UNS yang telah melakukan koordinasi dengan 40 kampus tersebut. “Semoga Kampus Nusantara Mengaji menjadi solusi menangkal gerakan kekerasan yang selama ini semakin mengkhawatirkan,” kata dia.

Hadir dalam kegiatan yang menjadi bagian perayaan Dies Natalis ke-41 UNS tersebut antara lain mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, Pendiri ESQ Ary Ginanjar, dan Rektor UNS Ravik Karsidi. 

Dok Gerakan Nusantara Mengaji Peserta kegiatan peluncuran Gerakan Kampus Nusantara Mengaji di Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017) malam.

Nasir menjelaskan, Nusantara Mengaji adalah kegiatan rutin yang telah digelar sejak 2016. Di Jakarta, dia mendeklarasikan gerakan tersebut bersama beberapa tokoh seperti Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj dan Ahsin Sakho Muhammad, di Masjid Darul Quran, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ).

Dalam kesempatan terpisah, Koordinator Nasional Nusantara Mengaji Jazilul Fawaid berharap peluncuran Kampus Nusantara Mengaji menjadi solusi bagi berbagai persoalan sosial, termasuk tawuran antar-mahasiswa, pergaulan bebas di kampus, dan radikalisme.

“Ini merupakan ikhtiar batin dan spiritual kita untuk memperkuat bangunan intelektual kampus,” katanya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kegiatan utama Gerakan Nusantara Mengaji selama ini adalah mengajak dan mendorong umat Islam lebih dekat dengan Alquran, salah satu caranya dengan menggelar berbagai kegiatan khataman—penanda telah selesai membaca 30 juz Alquran—massal.

Sementara itu, M Nuh menyebut, ide awal dari gerakan Kampus Nusantara Mengaji adalah memberikan penghargaan kepada para mahasiswa yang hafal Alquran. 

"Kita semua ingin memberikan penghargaan apa pun yang punya prestasi,” tutur Nuh. Jika selama ini prestasi diukur dengan kemenangan dalam olimpiade sains, lanjut dia, kenapa kemampuan menghafal Alquran tidak bisa diakui juga. 

“Menghafal Alquran lebih dari prestasi yang sangat luar biasa. Memang tidak mudah memuliakan orang yang mulia,” imbuh Nuh.  

Adapun Mahfud MD berpendapat, mahasiswa sebaiknya tak hanya mengembangkan aspek rasional. Menurut dia, mengasah keimanan dan spiritual juga sama pentingnya untuk dilakukan para mahasiswa.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X