Gerakan Literasi, Langkah Kecil Bangun Peradaban

Kompas.com - 24/03/2017, 20:29 WIB
Warga membaca buku di arena pustaka di lapangan terbuka Blang Padang, Banda Aceh, Aceh, Minggu (5/3). Komunitas Rumah Baca Aneuk Nanggroe membuka pustaka di ruang publik setiap hari Minggu untuk mendekatkan buku dengan warga sehingga menumbuhkan minat baca. KOMPAS/ZULKARNAINI Warga membaca buku di arena pustaka di lapangan terbuka Blang Padang, Banda Aceh, Aceh, Minggu (5/3). Komunitas Rumah Baca Aneuk Nanggroe membuka pustaka di ruang publik setiap hari Minggu untuk mendekatkan buku dengan warga sehingga menumbuhkan minat baca.
EditorBayu Galih

Selain Ruman, terdapat juga komunitas lain yang membuka pustaka di tengah-tengah warga, antara lain Rumah Relawan Remaja (3R), Taman Baca Ar-Rasyid, Sahabat Aneuk Dhuafa Pidie Mengajar, dan Mugee Buku.

Koordinator 3R Romi Perdana mengatakan, pihaknya membuka lima pustaka di desa terpencil di Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Aceh Besar. "Kami memilih desa terpencil karena anak-anak di sana selama ini sulit memperoleh bacaan," katanya. Buku yang disediakan 3R lebih banyak untuk anak-anak, seperti buku cerita, buku agama, dan komik.

3R juga menempatkan satu sukarelawan untuk mengelola pustaka dan mengajarkan anak-anak baca tulis. "Kami berharap dari gerakan kecil ini melahirkan generasi yang mencintai buku," ucap Romi.

Adapun Taman Baca Ar-Rasyid membuka pustaka di desa yang pernah diterjang tsunami, yakni di Kaju, Aceh Besar. Setiap hari, anak-anak yang tinggal di sekitar taman baca menghabiskan waktu membaca, belajar bahasa asing, dan seni. Mereka belajar tanpa dipungut biaya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Zulkifli mengapresiasi keterlibatan komunitas mendorong minat baca warga. Ketika pemerintah dan warga bergerak bersama, katanya, cita-cita membangun budaya membaca bergerak maju.

Pemerintah juga memiliki program untuk meningkatkan budaya baca, seperti membuka pustaka di gampong (desa), pustaka keliling, pemilihan duta baca, serta lomba membaca dan bercerita. Dari sekitar 6.000 desa di Aceh, 25 persen sudah memiliki pustaka. Dia menargetkan hingga 3 tahun ke depan semua desa memiliki pustaka.

Minat baca warga Aceh secara nasional berada di peringkat ke-10 bawah dari 34 provinsi. Catatan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), indeks membaca bangsa Indonesia pun hanya 0,001 (2012). Artinya, di antara 1.000 orang, hanya satu orang yang membaca secara serius. Demikian pula catatan survei Most Literated Nation in The World (2015) menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara, (Kompas, 7/2). (ZULKARNAINI)
---
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Maret 2017, di halaman 11 dengan judul "Langkah Kecil Bangun Peradaban".

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X