Akankah Bonus Demografi 2030 Berkah Bagi Indonesia?

Kompas.com - 04/04/2017, 19:30 WIB
Persoalan bonus itulah yang menjadi perbincangan hangat pada forum diskusi bertema : Bonus Demografi 2030, Berkah atau Beban?” yang digelar di acara tahunan StuNed Day di KBRI di Den Haag, Belanda, Sabtu (1/4/2017). Diskusi tersebut digelar atas kerjasama Nuffic Neso Indonesia dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda.

INDY HARDONOPersoalan bonus itulah yang menjadi perbincangan hangat pada forum diskusi bertema : Bonus Demografi 2030, Berkah atau Beban?” yang digelar di acara tahunan StuNed Day di KBRI di Den Haag, Belanda, Sabtu (1/4/2017). Diskusi tersebut digelar atas kerjasama Nuffic Neso Indonesia dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda.
EditorLatief

DEN HAAG, KOMPAS.com - Bonus demografi berupa populasi usia produktif lebih banyak dari usia nonproduktif tidak secara otomatis terjadi. Ada syaratnya.

Kelak, bonus demografi yang kerap kali digaungkan akan dialami Indonesia pada 2030 mendatang. Hal itu bukan bak durian runtuh, yang tidak akan serta merta terjadi.

Saat ini bonus demografi sebenarnya sedang berlangsung, walaupun kulminasinya diprediksi akan terjadi pada 2030 nanti. Apakah akan benar-benar merupakan berkah atau malah menjadi beban, itu harus terjawab.

Persoalan "bonus" itulah yang menjadi perbincangan hangat pada forum diskusi bertema : "Bonus Demografi 2030, Berkah atau Beban?” yang digelar di acara tahunan StuNed Day di KBRI di Den Haag, Belanda, Sabtu (1/4/2017). Diskusi tersebut digelar atas kerjasama Nuffic Neso Indonesia dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda.

Acara melibatkan 150 pelajar Indonesia di Belanda itu dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, atase pendidikan dan kebudayaan Prof Bambang Hari Wibisono, Direktur Asia Oceania Kementerian Luar Negeri Belanda, Peter Potman, serta Direktur Nuffic Neso Indonesia, Mervin Bakker.

Elda Luciana Pardede, pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan doktoralnya di Fakultas Spatial Science, Universitas Groningen, mengatakan bahwa bonus demografi sedang dialami oleh bangsa Indonesia yang antara lain ditandai dengan besarnya jumlah kelas menengah.

Elda, yang menjadi nara sumber diskusi ini mengatakan bahwa keberhasilan Indonesia keluar dari krisis keuangan global adalah karena tingginya tingkat komsumtifitas kelas menengah. Lebih jauh lagi Elda mempaparkan secara komprehensif bahwa ada prasyarat harus dipenuhi, yaitu sinergi dengan sektor lainnya, seperti kondisi kesehatan, tata kelola, kebijakan ekonomi dan pendidikan yang kondusif.

"Serta kondisi dan kualitas pekerja produktif, terutama dari sisi kesehatan, termasuk di dalamnya reproduksi, kebutuhan dasar dan pendidikan," papar Elda.

Pembicara lainnya, Andy Aryawan, penerima beasiswa StuNed dari pemerintah Belanda, bahkan menyoroti pentingnya pembenahan kebijakan di sektor invetasi, pendidikan, birokrasi dan transfer of knowledge jika ingin bonus demografi benar-benar bisa terealisasi.

"Karena itu, peran pelajar sangat penting. Karena merekalah yang nanti akan duduk di ruang-ruang kendali republik ini dan waktu yang dimiliki hanya tiga belas tahun untuk menjadikan situasi ini benar–benar menjadi berkah," ujar mahasiswa yang sedang menempuh studi magister bidang Urban Environmental Management di Universitas Wageningen ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X