Kompas.com - 05/04/2017, 14:46 WIB
Ilustrasi buku Thinkstock/EncrierIlustrasi buku
|
EditorAmir Sodikin


KOMPAS.com – Senin (3/4/2017), Indonesia mestinya berduka. Andai orang Indonesia tahu, sayangnya. Dan, ini bukan satu-satunya “momentum berduka” yang mungkin telah terlewatkan oleh bangsa Indonesia, sepertinya.

Satu orang “tak terkenal”—gara-gara orang Indonesia juga tak pernah benar-benar suka membaca—meninggal pada hari itu. Orang “tak terkenal” itu punya nama Mastini Hardjoprakoso.

Pada enggak kenal, kan?

Padahal, perempuan ini pernah mendapat perintah langsung dari Presiden Soekarno untuk menjahit bendera merah putih yang belakangan dikibarkan dalam upacara pembukaan Pesta Olahraga Nasional (PON) I di Solo pada 1948.

Padahal lagi, perempuan ini salah satu yang “menyelamatkan” gerakan kepanduan Indonesia dari pasang nama “pioneering” ala-ala di negara berpaham komunis. Upaya itu juga yang memunculkan nama Praja Muda Karana alias Pramuka seperti yang dikenal sekarang.

Lagi-lagi padahal, perempuan yang meninggal pada usia 88 tahun ini adalah orang pertama menempati posisi Kepala Perpustakan Nasional Indonesia.

Kisah Mastini dan bendera merah putih jahitannya, pernah diangkat harian Kompas edisi 9 September 1985, dalam artikel di halaman muka berjudul “Kisah Bendera PON I – Baru Sekali Dikibarkan, Terus Hilang”.

Adapun perannya  soal nama Pramuka untuk gerakan kepanduan di Indonesia, antara lain diungkap mantan Kepala Biro Humas Kwartir Nasional Pramuka, Nurman Atmasulistya.

“Dulu (Pramuka) namanya Pandu Rakyat. Beliau ini aktif mulai dari terbentuknya Gerakan Pramuka,” tutur Nurman yang melayat di pemakaman Mastini di TMP Kalibata, Selasa (4/4/2017), seperti dikutip siaran pers yang disebarkan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Nah, kalau soal jabatannya sebagai orang pertama yang memimpin Perpustakaan Nasional, googling sendiri juga bakal ketemu kok.

Kalau beruntung, bakal ketemu juga dengan nama Mastini yang rajin mengirim surat pembaca kalau ada berita salah kutip atau tak akurat, setidaknya di harian Kompas.

Apa lagi yang terlewat?

Meninggalnya Mastini—seperti kalimat ketiga pada paragraf pertama di atas—bisa jadi bukan satu-satunya peristiwa terlewatkan yang seharusnya menjadi momentum berduka bangsa Indonesia.

Waktu Mbok Patmi meninggal, misalnya, berapa banyak orang Indonesia yang berduka?

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Patmi berkerudung biru (48 tahun) salah seorang petani perempuan asal kawasan Pegunungan Kendeng yang melakukan aksi mengecor kaki di depan Istana Negara, Jakarta, meninggal dunia pada Selasa (21/3/2017) dini hari. Patmi mengalami serangan jantung dan meninggal dalam perjalanan dari kantor LBH Jakarta menuju Rumah Sakit St. Carolus, Salemba, Jakarta Pusat.

Jangan-jangan yang ada malah kepo saja—meskipun itu masih untung dibandingkan yang reaktif sibuk mencibir, berprasangka, bahkan menghujat, tetapi belakangan ketahuan tidak tahu apa-apa soal latar belakang panjang peristiwa itu.

Enggak kenal juga dengan Mbok Patmi?

Iyalah, beliau bukan artis, melainkan salah satu perempuan kampung asal Rembang, yang mengembuskan napas terakhir di sela aksi demo melawan pembangunan pabrik semen di daerahnya.

(Baca juga: Wafatnya Patmi dan Solidaritas Perjuangan untuk Para Petani Kendeng)

Yup, Mbok Patmi adalah perempuan yang menjadi salah satu peserta aksi membeton kaki di depan Istana Negara.

Di sela keriuhan Pilkada DKI Jakarta, aksi Mbok Patmi dan tetangga-tetangga sekampungnya itu memang sempat jadi polemik tersendiri. Itu tadi, yang paham jadi ikut mengharu biru, sebaliknya yang tidak paham apa-apa—meski mendaku paham—sibuk berprasangka macam-macam.

Kompas.com saja pernah terhenyak sesaat di tengah keramaian kantin, ketika obrolan tentang demo dan aksi membeton kaki tersebut tak terhindarkan di antara pengunjung kantin yang didominasi kelas menengah.

Saat itu, ada yang menyebut kata Samin terkait aksi menyemen kaki di depan Istana. salah seorang pengunjung kantin dengan spontan bertanya, “Samin? Apa itu?”!  Alamak! 

KOMPAS.COM/KRISTIAN ERDIANTO Petani dari kawasan Pegunungan Kendeng melakukan aksi protes atas izin lingkungan baru yang dikeluarkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Izin itu membuat penambangan karst PT Semen Indonesia di Rembang terus berjalan. Para petani memasung kaki dengan semen di depan Istana Negara, Senin (13/3/2017) hingga Jumat (17/3/2017).

Apalah daya, masalahnya, riset Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) pada 2012 juga mendapati, minat baca Indonesia hanya di kisaran angka 0,001. Artinya, dari 1.000 orang hanya satu orang yang punya minat membaca secara serius.

Data lebih baru, survei Most Literated Nation in The World yang dilansir pada 2015 menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara soal minat baca warganya. Dalam survei ini, peringkat Indonesia hanya lebih baik dari Botswana.

(Baca juga: Gerakan Literasi, Langkah Kecil Bangun Peradaban)

Maka, terasa “wajar” bila duka warga Ponorogo juga tak menguar di udara Indonesia, saat satu kampung di sana tertimbun longsoran bukit, Sabtu (1/4/2017). 

Menengok lini masa media sosial dan berita-berita yang berseliweran di dunia maya, orang—yang tinggal entah di mana pula di Indonesia—masih lebih semangat membahas dan bergunjing soal janji politik terkait harga rumah dalam keriuhan Pilkada DKI daripada berbagi empati kepada korban bencana seperti di Ponorogo.


KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWI Alat berat tengah bekerja menggali timbunan tanah longsor di Dukuh Tingkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Minggu ( 2/4/2017). Puluhan orang dilaporkan tertimbun.

Boro-boro—tentu saja—orang Indonesia menghayati dan membuat langkah antisipasi bersama terhadap risiko bencana.

Jangankan lupa, bisa jadi banyak orang tak juga sadar bahwa Indonesia punya penyebutan lain, yaitu Negeri Cincin Api, negeri dengan beragam risiko bencana karena posisi geografis dan geologisnya.

Ahmad Arif—dalam artikelnya yang dimuat harian Kompas edisi 14 September 2011—menuliskan, nyaris tak sejengkal pun tanah di Nusantara yang luput dari ancaman gempa, selain Kalimantan, seperti  tertera dalam peta sejarah kegempaan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Dalam artikel berjudul “Ekspedisi Kompas - Hidup Mati di Negeri Cincin Api” tersebut, Arif menuliskan pula bahwa gempa, tsunami, dan juga letusan gunung berapi telah menjadi bagian dari sejarah Nusantara dan terekam dalam mitologi serta dongeng kuno.

Tersusun dari ribuan pulau, Indonesia dilingkari jalur gempa paling aktif di dunia, Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), sekaligus dibelit jalur gempa teraktif nomor dua di dunia, Sabuk Alpide (Alpide Belt).

Kondisi ini diperparah dengan tumbukan tiga lempeng benua, Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur.

 

KOMPAS/AIK; GRH; LUP; SGH; XNA; Andri Data Bencana di Indonesia pada 2002-2016

Masalahnya, berapa banyak orang Indonesia yang mau susah payah membaca data seperti yang dirinci Arif dalam tulisannya?

Semoga segera tiba hari-nya orang Indonesia mau membaca, tak cuma sejarah tetapi juga referensi untuk solusi problem kekinian dan proyeksi tantangan bangsa.

Tak perlu menunggu kabar duka yang akhirnya benar-benar dirasa dan tak terelakkan oleh seluruh anak negeri terjadi juga, bukan?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.