Kompas.com - 05/04/2017, 18:56 WIB
Roslina Verauli, psikolog anak dan keluarga, pada diskusi Multilingual Sejak Dini, Kenapa Tidak? yang digelar EF English First menggelar di EF Center, Jakarta, pekan lalu. Dok EF Roslina Verauli, psikolog anak dan keluarga, pada diskusi Multilingual Sejak Dini, Kenapa Tidak? yang digelar EF English First menggelar di EF Center, Jakarta, pekan lalu.
EditorLatief

KOMPAS.com - Kemampuan berbahasa adalah aset tak ternilai bagi anak, karena menjadi salah satu indikator yang menentukan perkembangan kognitif di kemudian hari. Tahap perkembangan bahasa dimulai sejak tahap pralinguistik, yaitu saat anak mulai mengenal bahasa sejak bayi dan berlanjut hingga tahap kompetensi (dewasa).

Usia emas atau golden age (0-6 tahun) merupakan momentum saat bahasa anak akan mengalami kemajuan pesat. Pada usia itulah biasanya kemampuan bahasa pertama anak semakin matang dan dapat mulai diperkenalkan dengan bahasa asing.

"Tapi, yang kerap terjadi adalah muncul keraguan orangtua ketika ingin mengenalkan bahasa asing pada anak. Belajar bahasa asing sejak dini dianggap dapat menyebabkan kebingungan bahasa yang berujung pada berbagai masalah lainnya di kemudian hari, seperti terlambat bicara hingga masalah bersosialisasi," ujar Roslina Verauli, psikolog anak dan keluarga, pada diskusi 'Multilingual Sejak Dini, Kenapa Tidak?' yang digelar EF English First menggelar di EF Center, Jakarta, pekan lalu.

Vera menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan mitos. Yang perlu dipahami, lanjut dia, ketika anak dipaparkan lebih dari satu bahasa, maka akan terjadi peleburan dari bahasa-bahasa tersebut (code mixing).

Menurut dia, hal itu sebenarnya merupakan hal wajar terjadi pada anak-anak yang belajar multilingual. Proses itu merupakan bagian dari tahapan anak untuk kelak mampu menguasai bahasa-bahasa yang diperkenalkan dengan baik seiring usia kondisi ini akan hilang dengan sendirinya.

"Berdasarkan penelitian perkembangan berbahasa, bayi yang dipaparkan lebih dari dua bahasa tidak akan mengalami keterlambatan wicara," ujarnya.

Vera memaparkan, setiap manusia sejak bayi telah memiliki program di dalam otak yang disebut Language Acquisition Device (LAD). Hal itulah yang memungkinkan bayi dapat melakukan analisa dan memahami aturan dasar dari bahasa yang mereka dengar hingga akhirnya mereka bisa berbahasa dengan baik.

"Karena bayi memiliki kapasitas bawaan menguasai bahasa," kata Vera.

Lebih jauh Vera menjelaskan, dalam kaitannya menjadi multilingual justru memberikan sebuah pengalaman yang dapat membentuk kemampuan anak untuk beradaptasi lebih baik terhadap lingkungan. Menurut dia, sebuah penelitian juga menunjukkan jika penerapan multilingual dalam jangka panjang dapat mempengaruhi pembentukan struktur dan fungsi otak, yang salah satunya mendukung fungsi kognitif anak, seperti kemampuan yang lebih baik dalam menghafal dan mengingat, memahami dan konsentrasi, hingga kemampuan untuk menganalisa, pembentukan konsep, kemampuan verbal dan fleksibilitas berpikir.

"Anak dengan multilingual selain memiliki kemampuan kognitif lebih baik, juga akan memiliki kemampuan personal dan sosiokultural yang lebih baik dibandingkan dengan yang monolingual," ucapnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.