Kompas.com - 06/04/2017, 18:33 WIB
Temu tim bahasa Kompas dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berlangsung di kantor harian Kompas, Kamis (6/4/2017). Dimas WahyuTemu tim bahasa Kompas dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berlangsung di kantor harian Kompas, Kamis (6/4/2017).
Penulis Dimas Wahyu
|
EditorLatief

JAKARTA, KOMPAS.com - Soeharto pada masa jabatannya sebagai Presiden RI meminta developer atau pengembang properti untuk sudah mengganti istilah-istilah asing pada nama-nama kompleks perumahan, awal bulan April 1995.

Usaha kepala negara terhadap penggunaan bahasa Indonesia itu kemudian ditanggapi oleh persatuan pengusaha properti Real Estate Indonesia (REI) yang berjanji segera menggantinya dengan istilah-istilah Indonesia, sesuai catatan harian Kompas, 19 Mei 1995. Pada masa itu pun banyak perumahan dengan nama "garden", "villa", "valley", "park", dan "regency".

Memori di atas menjadi satu bagian yang dibicarakan kembali dalam acara temu bahasa di kantor harian Kompas bersama Meity Taqdir Qodratillah, penyuluh kebahasaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Meity mengatakan bahwa selepas langkah tersebut, kemudian muncul sejumlah istilah baru terjemahan dalam bahasa Indonesia yang masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

"Tahun 1995, Soeharto mewajibkan istilah Indonesia untuk semua istilah properti dalam Gerakan Disiplin Nasional untuk menyambut perayaan Indonesia Emas 50 Tahun. Saat itu, muncul kata baru 'pengembangan'," ujar Meity.

Meity mengatakan bahwa kata tersebut untuk menerjemahkan "develop" dengan memproses kata "kembang" yang kemudian menjadi "pengembangan" setelah mengikuti pembentukan kata lainnya yang berimbuhan pe-an untuk memaknai sebuah proses, cara, ataupun perbuatan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebagai pihak yang berada di dalam lembaga resmi bahasa dan kerap kali diminta sebagai ahli dalam urusan pemerintahan terkait kebahasaan, ia coba menggambarkan bahwa menerjemahkan sebuah kata asing, sebuah istilah asing, bisa hanya memerlukan waktu satu menit, tetapi bahkan bisa juga satu tahun.

Salah satu usaha menerjemahkan yang memakan waktu terjadi ketika Microsoft meminta bantuan Badan Bahasa pada 2003.

Microsoft yang pada masa itu punya program memintarkan masyarakat daerah meminta Badan Bahasa menentukan kata-kata dalam bahasa Indonesia bagi perangkat lunak mereka. Saat itu, Meity bersama tim berkutat dengan kata “online”.

Hasilnya, kata "online" di-Indonesia-kan menjadi "daring".

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.