Karena Kita Butuh Generasi Kesatria...

Kompas.com - 02/05/2017, 08:41 WIB
Anggota Paskibraka Tim Arjuna bersiap untuk mengibarkan bendera dalam upacara peringatan detik-detik proklamasi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (17/8/2016). Warta Kota/Alex SubanAnggota Paskibraka Tim Arjuna bersiap untuk mengibarkan bendera dalam upacara peringatan detik-detik proklamasi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (17/8/2016).
EditorLatief

KOMPAS.com - Dalam epik Mahabarata dan Baratayuda dikisahkan tentang peperangan maha dahsyat selama 18 hari antara Pandawa dan Kurawa. Ini adalah Perang Baratayuda, perang saudara yang tidak cukup mengandalkan kesaktian, namun kepiawaian dan strategi pertempuran tingkat dewa.

Tak heran, saking dahsyatnya, peperangan ini membuat para dewa "turun tangan". Mereka memantau langsung dan memberikan arahannya.

Kini, setelah ratusan tahun berlalu, kisah perang legendaris itu masih terekam memasuki dunia yang semakin tak berbatas (borderless). Dunia tanpa batas itulah ibarat Padang Kurusetra bagi generasi muda kita, ketika hidup di satu negara hanyalah batas geografis dan informasi tidak lagi mengenal batas warganegara dan teritorial. Jadi, inilah Perang Baratayuda bagi generasi milenial!

Ya, semua adalah warga dunia sehingga di manapun berada kita akan menghadapi persaingan global. Yang pasti, hal sesungguhnya terjadi adalah "Perang Saudara" di dalam generasi milenial itu sendiri.

Memang, baik Pandawa maupun Kurawa punya pasukan siap tempur. Namun, pasukan tersebut tak ada artinya jika tidak dipimpin kesatria handal. Peperangan hanya akan dimenangkan pihak yang memiliki kesatria cerdik, dapat membaca situasi, dan kualitas kepemimpinannya sangat mumpuni.

Pandawa memiliki lima orang kesatria. Mereka hasil didikan dan tempaan para dewa. Sebutlah Arjuna, sangat ksatria utama Pandawa, yang tidak hanya belajar dari Resi Dorna dalam hal ilmu militer dan membidikkan panah, namun juga ditempa mentalnya melalui tapa brata di Mahameru (lakon Arjunawiwaha), sebelum akhinya ‘lulus’ dan dianugrahi senjata khusus oleh dewa berupa panah bernama Pasopati.

Pendidikan dan tempaan yang diterima oleh Arjuna, Yudistira, Bima, Nakula dan Sadewa adalah pendidikan lengkap. Ya, bukan hanya ilmu pengetahuan (kognitif)) yang didapat, melainkan juga pengasahan kematangan, kearifannya (asertif), serta keterampilan menerapkan ilmu (psikomotrik). Dengan modal itulah Pandawa memenangkan Baratayuda.

Dok Nuffic Neso Indonesia Mahasiswa Indonesia.
Kesatria bukan prajurit

Sistem pendidikan dan kurikulum nasional masa kini seyogianya harus bisa mencetak para kesatria tangguh. Bonus demografi yang ramai digaungkan bisa dinikmati pada 2030 tentu tidak akan terjadi begitu saja.

Kenapa? Ada 78 juta generasi muda usia produktif yang mungkin malah akan menjadi "beban" jika perguruan tinggi tak dapat memberikan suplai kesatria yang cukup kepada bangsa ini. Ingat, Kurawa diperkuat pasukan sebanyak dua kali lipat dari Pandawa, tapi tetap kalah dalam Perang Baratayuda.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X