Indy Hardono
Pemerhati pendidikan

Saat ini bergiat sebagai koordinator tim beasiswa pada Netherlands Education Support Office di Jakarta. Sebelumnya, penulis pernah menjadi Programme Coordinator di ASEAN Foundation. 

Karena Kita Butuh Generasi Kesatria...

Kompas.com - 02/05/2017, 08:41 WIB
Anggota Paskibraka Tim Arjuna bersiap untuk mengibarkan bendera dalam upacara peringatan detik-detik proklamasi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (17/8/2016). Warta Kota/Alex SubanAnggota Paskibraka Tim Arjuna bersiap untuk mengibarkan bendera dalam upacara peringatan detik-detik proklamasi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (17/8/2016).
EditorLatief

Sejatinya, bak dalam Perang Baratayuda, generasi muda masa kini pun harus memiliki Konta dan Pasopati jika ingin memenangkan "Baratayuda Milenial". Tak cukup hanya membanggakan indeks prestasi di atas rata-rata, karena ada berjuta orang dengan indeks prestasi yang persis sama.

Tidak cukup juga hanya mengandalkan, "Saya lulusan universitas ternama".

Ya, karena ada beribu perguruan tinggi yang memiliki peringkat lebih baik. Mereka juga tak cukup hanya berlaga di kompetisi global dengan senjata minimum requirement atau sekedar memenuhi eligibility criteria, karena saingannya adalah berjuta prajurit.

Seorang kesatria harus datang dengan 'keunggulan'. baik itu keunggulan akademis maupun nonakademis. Keunggulan akademis Arjuna didapat dari Resi Dorna yang berperan penting mengasah keahlian memanahnya.

Namun, keunggulan nonakademisnya banyak dia dapatkan dari Batara Kresna, sang penasehat Pandawa, yang banyak mengajarkan tentang berpikir kritis, situasional, out of the box dan juga kearifan kepada Arjuna dan para kestaria Pandawa lainnya yang akhirnya merupakan ‘senjata pamungkas’ untuk memenangkan peperangan.

Keunggulan kaum milenial yang menjadi senjata andalan generasi muda adalah kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, serta berinteraksi dalam lingkup multikultur. Satu hal yang tak kalah penting adalah kesadaran akan potensi diri dan kepekaan terhadap tantangan ke depan.

Bukan karbitan

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pembentukkan kesatria perlu waktu. Pandawa Lima tidak serta merta dapat memenangkan peperangan. Kemenangan di Padang Kurusetra bukan hadiah, tapi sebuah proses panjang.

Pembentukan kesatria juga perlu dipupuk. Mereka tidak dapat "dikarbit", terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan kedewasaan, kematangan, dan kearifan.

Namun, di atas semua itu, untuk membentuk generasi milenial menjadi generasi kesatria, diperlukan guru militer sekaliber Dorna. Butuh guru besar taktik perang dan spiritual sekaliber Prabu Kresna, dan juga ibu sehebat dan sebijak Dewi Kunti, yang tidak hanya mencekoki dan menuangkan ilmu, namun juga memberikan kesempatan kepada anak didiknya untuk gagal, untuk mencoba dan bereksperimen, serta berpikir kritis.

Satu hal tak kalah penting adalah untuk belajar dari kekalahan, untuk modal memetik kemenangan. Ya, it takes a village untuk membentuk generasi kesatria! Dibutuhkan pendidik yang satria pandita untuk mendidik calon pemimpin yang kelak dapat menjadi pemimpin paling dipanuti.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.