Kompas.com - 04/08/2017, 05:47 WIB
Tugu Proklamasi dengan patung dua proklamator, Soekarno dan Mohammad Hatta, di Jalan Proklamasi, Jakarta. KOMPAS.com/TRI WAHYUNITugu Proklamasi dengan patung dua proklamator, Soekarno dan Mohammad Hatta, di Jalan Proklamasi, Jakarta.
|
EditorPalupi Annisa Auliani


RUANGAN
mendadak senyap ketika dia angkat bicara. Pertanyaan itu tak terhindarkan muncul juga. Tak cuma soal kebijakan internasional Indonesia, pertanyaan yang datang bertubi-tubi pun mengkritisi Presiden Soekarno alias Bung Karno.

Dengan suara tenang dan zakelijk, lelaki itu memberikan jawaban atas semua pertanyaan tersebut.

Dalam beberapa hal saya memang berbeda pendapat dengan Bung Karno. Tetapi Bung Karno adalah Presiden Republik Indonesia, negara yang saya perjuangkan kemerdekaannya bertahun-tahun. Sebagai warga negara Republik Indonesia yang ditegakkan atas dasar Pancasila, saya bisa berbeda pendapat, namun ini tidak mengurangi hormat saya kepada Bung Karno, presiden negara saya. Right or wrong he is my president. Presiden dari Negara Republik Indonesia yang saya cintai!

Kesunyian bertahan menggantung di ruangan selama beberapa saat lagi, untuk kemudian berganti dengan riuh rendah tepuk tangan membahana. Semua orang yang hadir dalam pertemuan di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, itu pun spontan berdiri.

Cerita tersebut merupakan satu dari sekian banyak peristiwa serupa yang dulu mewarnai perjalanan menjelang kemerdekaan dan beberapa masa sesudahnya.

Ada banyak tokoh yang dalam catatan lembar sejarah tak selalu sejalan pikiran dengan penguasa, tetapi tak bisa dinafikan punya peran besar bagi kelangsungan Republik Indonesia. Perbedaan pendapat di antara mereka pun tak lalu memudarkan sisi kemanusiaan, penghormatan satu sama lain, dan visi ke-Indonesiaan.

Ini sepenggal cerita di antaranya.

Bung Hatta

Lelaki dalam kisah  di atas adalah Mohammad Hatta alias Bung Hatta. Peristiwa itu merupakan satu fragmen saat dia memenuhi undangan memberi kuliah umum di kampus tersebut pada 1960-an.

Cerita tersebut diungkapkan oleh Emil Salim yang saat momentum itu terjadi masih mahasiswa di California. Emil menuturkannya dalam tulisan “His Majesty Mr Democrat” di buku Rendang di San Fransisco: Seri di Mata Pribadi Manusia Hatta, yang terbit pada 2002.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.