Kompas.com - 10/08/2017, 13:11 WIB
Peter van Tuijl, Direktur Nuffic Neso Indonesia, ditemui di kantornya, Selasa (15/8/2017). M LATIEF/KOMPAS.comPeter van Tuijl, Direktur Nuffic Neso Indonesia, ditemui di kantornya, Selasa (15/8/2017).
Penulis Latief
|
EditorLatief

KOMPAS.comPeter van Tuijl bukan nama baru di kalangan aktivis Tanah Air. Semasa masih kuliah, sejak 1981 pria berkebangsaan Belanda itu sudah masuk ke Jakarta dan terlibat aktif mengurus yayasan untuk keluarga tahanan politik peristiwa G30S/PKI.

Sebagai pemegang gelar master bidang Modern Asian History and the Economy of Developing Countries di University of Amsterdam, Belanda, Peter memang ahlinya untuk bidang civil society.

Dia "kenyang" menerbitkan sejumlah artikel dalam jurnal akademik dan media mengenai peran LSM, transnasional masyarakat sipil, hak asasi manusia, akuntabilitas LSM serta perkembangan sosial dan politik di Indonesia.

Peter memulai itu sejak era pemerintahan represif Soeharto. Aktivitasnya membawa perkenalan yang baik dengan almarhum Adnan Buyung Nasution, almarhum Munir, serta Todung Mulya Lubis.

"Saksi pernikahan saya itu almarhum Gus Dur. Saya lalu masuk Infid dan berkumpul sebagai komunitas LSM yang ingin sedikit lebih kritis. Maklum, itu zaman Soeharto," kata Peter yang pernah menjabat Sekretaris Eksekutif Forum LSM Internasional untuk Pembangunan Indonesia atau International NGO Forum on Indonesian Development (INFID).

Peter, yang juga pernah menjabat Direktur Eksekutif Kemitraan Global untuk Pencegahan Konflik Bersenjata (GPPAC), menuturkan di antara 2000-2007 dia tinggal di Jakarta. Dia bekerja di UNDP dan menjadi penasihat teknis senior dalam memerangi korupsi di Kepolisian Negara Republik Indonesia di bawah pengawasan Program International Criminal Investigative Training Assistance (ICITAP), Departemen Kehakiman Amerika Serikat.

Sebelumnya, Peter bekerja sebagai Senior Advisor dengan OxfamNovib. Konsentrasinya pada pengembangan kapasitas advokasi LSM, dan menjabat Sekretaris Eksekutif untuk Forum LSM Internasional untuk Pembangunan Indonesia (INFID).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bersama rekannya, Lisa Jordan, pada 2009 Peter menerbitkan buku "Akuntabilitas LSM: Politik, Prinsip dan Inovasi". Di buku ini dai memaparkan bahwa sebagai segmen masyarakat sipil yang tumbuh paling cepat dan tampak menonjol di dalam arena politik global, LSM kerap diserang karena dianggap "tidak akuntabel.

Di situ Peter melakukan penyelidikan pertama yang komprehensif mengenai isu-isu dan politik akuntabilitas LSM di semua sektor. Lewat buku ini, Peter menawarkan penilaian terhadap perangkat-perangkat kunci yang tersedia mencakup akuntabilitas legal LSM. 

Refleksi Soeharto

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.