Kompas.com - 29/09/2017, 09:44 WIB
Seorang siswa mencoba alat penguji gravitasi di Pusat Peragaan Iptek, saat pameran Ritech Expo diarea Center Poin of Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (10/8/2017). Ritech Expo merupakan rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) yang diikuti 110 instansi, 35 perguruan tinggi, 10 Balitbangda, 20 Kementerian dan Lembaga, 20 Industri dan BUMN serta 10 asosiasi serta komunitas, yang berlangsung 10-13 Agustus 2017. ANTARA FOTO/Darwin Fatir/aww/17. ANTARA FOTO/DARWIN FATIRSeorang siswa mencoba alat penguji gravitasi di Pusat Peragaan Iptek, saat pameran Ritech Expo diarea Center Poin of Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (10/8/2017). Ritech Expo merupakan rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) yang diikuti 110 instansi, 35 perguruan tinggi, 10 Balitbangda, 20 Kementerian dan Lembaga, 20 Industri dan BUMN serta 10 asosiasi serta komunitas, yang berlangsung 10-13 Agustus 2017. ANTARA FOTO/Darwin Fatir/aww/17.
Penulis Latief
|
EditorLatief

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Majelis Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), Prof. Dr. Armai Arief, mengatakan belum sepenuhnya industri memanfaatkan hasil riset penguruan tinggi yang jumlahnya sangat banyak. Penyebabnya adalah masih minimnya informasi dari riset tersebut

"Banyak dari hasil riset itu akhirnya hanya tersimpan rapi di perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi, padahal isinya inovasi yang akan memberikan manfaat bagi industri apabila dikomersialisasikan," ujar Armai di ajang penghargaan hasil riset dan inovasi perguruan tinggi di JCC Jakarta, Kamis (29/9/2017).

Penghargaan hasil riset dan teknologi tersebut merupakan rangkaian kegiatan Pameran Internasional IPTEK dan Inovasi Pembelajaan dari Berbagai Negara atau Global Education Supplies and Solution (GESS Indonesia). Bekerja sama dengan ADI dan Dirjen Penguatan Inovasi Ristekdikti, pameran dilaksanakan di JCC sejak Rabu27/9/2017) sampai Jumat (29/9/2017 ini.

Penghargaan ini, lanjut Armai, diberikan kepada dosen yang memberikan paparan hasil riset terbaik di hadapan dewan juri yang terdiri dari unsur pemerintah dan praktisi bisnis, terdiri dari Direktur Sistem Inovasi Kementerian Ristekdikti, DR. Ir. Ophirtus Sumule, DEA, Presiden Direktur PT Katama Suryabumi Kris Suyanto, Pengusaha Wanita Dewi Motik, serta Socentix CEO David Darmawan.

Armai mengatakan, belum banyak industri yang belum memanfaatkan inovasi karya anak bangsa membuat Indonesia dibanjiri produk impor dengan teknologi negara lain, padahal banyak dari teknologi tersebut serupa dengan hasil riset yang dikembangkan perguruan tinggi.

Armai yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan terkait dengan permasalahan tersebut ADI terpanggil untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk menjembatani penguruan tinggi dengan kalangan industri, hasilnya sudah mulai terlihat sejak tahun 2016 diantaranya di sektor industri farmasi dan konstruksi.

Hal itu juga yang mendorong ADI menjalin kerja sama dengan Kemenristekdikti untuk menggelar pameran dan konferensi mengenai inovasi yang diikuti kalangan industri dan perguruan tinggi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Padahal, Armai menambahkan bahwa regulasi yang dikeluarkan pemerintah untuk menjembatani industri dan perguruan tinggi sudah memadai, salah satu diantaranya kebijakan paten untuk memberikan perlindungan kepada penemu atau inovator yang karyanya dimanfaatkan dalam skala komersial.

Menurut Armai karya-karya inovasi itu sangat bermanfaat untuk mendorong industri merancang produk yang bisa berkompetisi dalam skala global.

"Kalau inovasi teknologi ini bisa didapat di dalam negeri dengan harga lebih terjangkau tentu akan menguntungkan bagi industri ketimbang harus mendatangkan teknologi dari luar," ujar Armai.

Halaman:


Sumber antara
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.