Incar Anak Milenial, BLK Segera Buka Jurusan "Fashion Design"

Kompas.com - 23/01/2018, 15:27 WIB
Salah satu koleksi dari Anne Avantie, dari koleksi Jangi Janger dengan menggunakan kain songket asal Bali, dengan desain-desain yang eksotis yang diusung dari macanegara, dalam Jakarta Fashion Week 2017 di Senayan City Jakarta, Selasa (25/10/2016). 
Kristianto PurnomoSalah satu koleksi dari Anne Avantie, dari koleksi Jangi Janger dengan menggunakan kain songket asal Bali, dengan desain-desain yang eksotis yang diusung dari macanegara, dalam Jakarta Fashion Week 2017 di Senayan City Jakarta, Selasa (25/10/2016).
|
EditorLatief


JAKARTA, KOMPAS.com - Hampir setahun lalu Presiden RI Joko Widodo meresmikan perluasan pabrik PT Sri Rejeki Isman (Sritex) di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Perluasan itu kemudian berdampak pada meningkatnya kebutuhan tenaga kerja sejumlah 3.500 orang. Saat ini, Sritex memiliki lebih dari 50.000 pekerja di pabrik tekstil dan garmen.

Perkembangan pabrik itu membuka fakta soal perkembangan industri tekstil dan garmen di Jawa Tengah yang ditengarai sedang berkembang. Sayangnya, perkembangan tersebut didasari karena upah buruh di Jawa Tengah dinilai rendah.

Hal itulah yang kemudian disebut menjadi alasan mengapa sejumlah pengusaha sektor garmen dan tekstil memindahkan pabriknya dari Jawa Barat dan Banten ke wilayah tersebut.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo akhir tahun lalu mengumumkan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) dari Rp 1.367.000 menjadi Rp 1.486.065 pada 2018. Setelah naik 8,7 persen, ternyata UMP Jawa Tengah masih jauh lebih murah ketimbang UMP Banten yang semula Rp 1.931.180 lalu naik 8,7 persen menjadi Rp 2.099.385. Sedangkan, UMP Jawa Barat pada 2017 sebesar Rp 1.420.624 naik 8,7 persen menjadi Rp 1.544.360.

Baca:  Naik 8,7 Persen, UMP Jawa Tengah 2018 Menjadi Rp 1.486.065

Dengan masuknya sejumlah investasi, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah memprediksi, kebutuhan tenaga kerja baru di Jawa Tengah setiap tahunnya mencapai 2.000 orang. Dari total kebutuhan tenaga kerja itu, sekira 70 hingga 80 persen terserap di sektor garmen. Sisanya, terdistribusi pada sejumlah sektor, seperti tekstil, mebel, dan sepatu.

Meski begitu, kebutuhan tenaga kerja tak mungkin diserap dalam waktu bersamaan. Persoalannya, tidak mudah bagi pengusaha untuk mendapatkan tenaga kerja terampil, utamanya di sektor garmen.

Rata-rata lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) perlu dilatih tiga sampai enam bulan untuk menguasai teknik menjahit.

Rencana pemerintah

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X