Kompas.com - 02/02/2018, 13:00 WIB
|
EditorKurniasih Budi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan tinggi dituntut untuk bisa menghasilkan lulusan-lulusan yang inovatif serta mampu memenuhi kebutuhan dunia industri. Dengan begitu, lulusan pendidikan tinggi bisa berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara.

Indonesia saat ini masih sulit bersaing dengan negara lain karena masih berkutat pada isu kebutuhan dasar, seperti pangan.

Menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Archandra Tahar, pendidikan tinggi mesti menjadi wahana utama dalam menghasilkan berbagai inovasi. Utamanya, inovasi-inovasi yang dibutuhkan sektor industri. Dengan demikian, Indonesia tak akan tertinggal di bidang pengembangan teknologi.

“Kita masih bicara tentang masalah fundamental. Di negara lain bukan menjadi isu lagi, Kita masih berkutat di situ. Ini tantangan universitas terutama yang didukung industri. Apa yang dilakukan universitas harus berbasis industri, berdasarkan kebutuhan industri,” kata Archandra saat peringatan Dies Natalis ke-2 Universitas Pertamina di Jakarta, Kamis (1/2/2018).

Lalu bagaimana caranya agar Indonesia mampu mengejar ketinggalan dari negara lain?

Penelitian dan pengembangan mutlak dilakukan. Menurut Archandra, kegagalan pasti ditemui di dalam proses penelitian dan pengembangan.

Dengan proses yang semacam itu, dana yang dibutuhkan pastilah tak sedikit. Komitmen dari pemerintah dan swasta untuk membiayai penelitian dan pengembangan dibutuhkan, agar Indonesia bisa maju di dalam pengembangan teknologi.

Uji laboratorium dibutuhkan untuk mengetahui porositas dan permeabilitas batuan sedimen. Mahasiswa Universitas Pertamina didorong untuk bisa mengembangkan kompetensi dengan fasilitas laboratorium yang terintegrasi.KOMPAS.com/ KURNIASIH BUDI Uji laboratorium dibutuhkan untuk mengetahui porositas dan permeabilitas batuan sedimen. Mahasiswa Universitas Pertamina didorong untuk bisa mengembangkan kompetensi dengan fasilitas laboratorium yang terintegrasi.

Menurut dia, negara-negara lain sangat terbuka dengan kemungkinan kegagalan dalam penelitian dan pengembangan. Dengan begitu, negara lain bisa menemukan teknologi yang lebih baik dari masa lalu.

Seperti halnya dengan Apollo 11 yang merupakan salah satu proyek dari National Aeronautics and Space Administration (NASA). Misi luar angkasa berawak pertama di dunia ini berhasil membawa manusia ke bulan dan kembali dengan selamat ke bumi. Apollo 11 yang diawaki Neil Amstrong, Edwin Aldrin, dan Michael Collins diluncurkan pada 16 Juli 1969 menggunakan roket Saturn V.

“Mengapa hanya Apollo 11 yang sampai ke bulan? Bagaimana dengan Apollo satu hingga sepuluh? Ada banyak kegagalan yang bisa ditemui sampai mereka bisa berhasil dengan Apollo 11. Sedangkan di Indonesia, riset and development boleh gagal enggak?” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.