Perguruan Tinggi Digandeng untuk Dukung Diplomasi Sawit - Kompas.com

Perguruan Tinggi Digandeng untuk Dukung Diplomasi Sawit

Kompas.com - 05/02/2018, 06:58 WIB
Warga mengambil hasil kebun berupa buah kelapa sawit di kawasan Alue Gro, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, Sabtu (23/1/2016).KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH Warga mengambil hasil kebun berupa buah kelapa sawit di kawasan Alue Gro, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, Sabtu (23/1/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia perlu mencari peluang untuk mengembangkan pasar sawit baru di luar Uni Eropa karena bisnis sawit Indonesia terancam dengan adanya kebijakan Uni Eropa yang diskriminatif.

Sebagai negara produsen dan penanam sawit terbesar di dunia, inilah saatnya Indonesia memanfaatkan kelapa sawit sebagai bagian penting dalam sustainable energy security.

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo meminta diskriminasi Uni Eropa terhadap kelapa sawit dihentikan. Sejumlah sikap dan kebijakan dinilai merugikan kepentingan ekonomi dan merusak citra negara produsen sawit juga harus dihilangkan.

Saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 40 Tahun Kerja Sama Kemitraan ASEAN-Uni Eropa (UE) di Manila, Filipina, Selasa (14/11/2017) lalu, Jokowi menegaskan bahwa kelapa sawit sangat dekat dengan upaya mengentaskan kemiskinan, mempersempit kesenjangan, serta membangun ekonomi yang inklusif.

Baca: Jokowi Minta Uni Eropa Hentikan Diskriminasi Sawit

Hingga kini, terdapat 17 juta orang Indonesia yang hidupnya, baik langsung maupun tidak langsung, terkait dengan kelapa sawit. Selain itu, 42 persen lahan perkebunan kelapa sawit dimiliki oleh petani kecil.

Oleh karena itu, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri menggandeng Universitas Pertamina untuk melakukan kajian aplikatif dalam rangka mendukung Diplomasi Sawit Lestari Indonesia. Studi Hubungan Internasional di kampus itu memang berfokus pada bidang energi di Indonesia.

Penandatanganan nota kesepahaman kedua lembaga telah dilakukan pada Kamis (1/2/2018) tepat pada peringatan Dies Natalis ke-2 Universitas Pertamina di Kompleks Universitas Pertamina, Jakarta Selatan.

Rektor Universitas Pertamina, Akhmaloka, mengatakan perguruan tinggi dituntut memiliki program yang overlap dengan industri dan pemerintah. Universitas bisa tetap menghasilkan lulusan dan publikasi penelitian, namun diperkuat dengan kerja sama industri dan pemerintah.

Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Universitas Pertamina untuk melakukan kajian aplikatif untuk mendukung Diplomasi Sawit Lestari Indonesia. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan di Kompleks Universitas Pertamina, Kamis (1/2/2018)kKOMPAS.com/ KURNIASIH BUDI Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Universitas Pertamina untuk melakukan kajian aplikatif untuk mendukung Diplomasi Sawit Lestari Indonesia. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan di Kompleks Universitas Pertamina, Kamis (1/2/2018)k

Faktanya, perguruan tinggi tidak mungkin menanggung sendiri dana untuk riset dan penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi.

Pemerintah juga harus berperan dalam aspek kelembagaan kerja sama dan memberi insentif bagi perguruan tinggi dan industri. Misalnya, memberi insentif pajak untuk mendorong kerja sama dalam kegiatan riset dan pengembangan secara kolaboratif.

"Industri menyediakan program dan anggaran. Di sisi lain, perguruan tinggi menyediakan sumber daya manusia untuk melakukan riset dan menghasilkan inovasi-inovasi," katanya.

BPPK Kementerian Luar Negeri menilai Universitas Pertamina dapat menjadi mitra kerja sama dalam menghasilkan kajian dan rekomendasi terkait kebijakan luar negeri Indonesia, termasuk pada sektor komoditas strategis seperti kelapa sawit.

Tahun lalu, BPPK telah menandatangani nota kesepahaman dengan 10 universitas di berbagai provinsi. Nota kesepahaman diharapkan bakal mendukung upaya pengembangan kegiatan pendidikan/pengajaran, penelitian pengkajian ilmiah, serta pengabdian kepada masyarakat mengenai isu-isu hubungan internasional.


EditorKurniasih Budi
Komentar

Terkini Lainnya

Kesbangpol DKI Minta Ormas Binaannya Tak Sebarkan Surat Edaran Minta THR ke Instansi Pemerintah dan Swasta

Kesbangpol DKI Minta Ormas Binaannya Tak Sebarkan Surat Edaran Minta THR ke Instansi Pemerintah dan Swasta

Megapolitan
Ruas Tol Brebes Timur-Pemalang Siap Beroperasi Saat Mudik, Gratis

Ruas Tol Brebes Timur-Pemalang Siap Beroperasi Saat Mudik, Gratis

Regional
Salaman, Maling Jengkol 20 Kg dengan Pemilik Kebun Berdamai

Salaman, Maling Jengkol 20 Kg dengan Pemilik Kebun Berdamai

Regional
Wartawan: Kami Tak Punya Cara untuk Memverifikasi secara Independen

Wartawan: Kami Tak Punya Cara untuk Memverifikasi secara Independen

Internasional
Pemerintah Diminta Hati-hati Rumuskan Perpres Pelibatan TNI Atasi Terorisme

Pemerintah Diminta Hati-hati Rumuskan Perpres Pelibatan TNI Atasi Terorisme

Nasional
Wali Kota: Pak Jokowi Tanya Pelabuhan Sibolga, Saya Jawab 'Sudah 75 Persen'

Wali Kota: Pak Jokowi Tanya Pelabuhan Sibolga, Saya Jawab 'Sudah 75 Persen'

Regional
Akses Jalan Sempit Jadi Kendala Pemadaman Kebakaran 40 Rumah di Bidara Cina

Akses Jalan Sempit Jadi Kendala Pemadaman Kebakaran 40 Rumah di Bidara Cina

Megapolitan
Kebakaran di Bidara Cina Diduga dari Ledakan Tabung Gas Saat Sahur

Kebakaran di Bidara Cina Diduga dari Ledakan Tabung Gas Saat Sahur

Megapolitan
Polda Sulbar Gilas Ribuan Botol Miras dan Narkotika Hasil Razia di Bulan Ramadhan

Polda Sulbar Gilas Ribuan Botol Miras dan Narkotika Hasil Razia di Bulan Ramadhan

Regional
Sekolah Diobrak Abrik Maling, 4 Unit Laptop dan 1 Unit LCD Raib Dicuri

Sekolah Diobrak Abrik Maling, 4 Unit Laptop dan 1 Unit LCD Raib Dicuri

Regional
Belasan Peluru Ditemukan di Setu Mangga Bolong Jagakarsa

Belasan Peluru Ditemukan di Setu Mangga Bolong Jagakarsa

Megapolitan
Jemparingan Mataraman, Adu Memanah Ala Prajurit Keraton Sambil Ngabuburit

Jemparingan Mataraman, Adu Memanah Ala Prajurit Keraton Sambil Ngabuburit

Regional
40 Rumah Terbakar di Bidara Cina Saat Waktu Sahur, 3 Orang Terluka

40 Rumah Terbakar di Bidara Cina Saat Waktu Sahur, 3 Orang Terluka

Megapolitan
Implementasi UU Antiterorisme Diminta Patuhi Kewajiban HAM Internasional

Implementasi UU Antiterorisme Diminta Patuhi Kewajiban HAM Internasional

Nasional
Kisah Final Piala Thomas 1970, Sumbangan Rp 50 hingga Berkerumun di Depan TV Tetangga

Kisah Final Piala Thomas 1970, Sumbangan Rp 50 hingga Berkerumun di Depan TV Tetangga

Nasional
Close Ads X