Murid Penganiaya Guru, Pelaku atau Korban? Halaman 3 - Kompas.com

Murid Penganiaya Guru, Pelaku atau Korban?

Kompas.com - 12/02/2018, 06:30 WIB
Ilustrasi kekerasan terhadap anaktakasuu Ilustrasi kekerasan terhadap anak

 

Sebagai ilustrasi perkembangan otak anak usia golden age ini seperti spons yang menyerap semua informasi yang ada disekitarnya.

Pusat pendidikan yang kedua adalah sekolah. Istilah guru, yang digugu (ditaati) dan ditiru harus dibedakan dengan istilah pengajar. Pengajar hanya memberikan pengetahuan kognitif, pemberi ilmu-pengetahuan.

Sedangkan guru bertindak tidak hanya sebagai pengajar, namun juga sebagai contoh karakter dan budi pekerti (karaktervorming). Istilah Ki Hajar, sebagai pemimpin laku-adab.

Sistem sekolah yang hanya sebagai pabrik ilmu pengetahuan tidak memiliki jiwa, dan mengabaikan kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang berbudi pekerti. 

Saya beranggapan ada korelasi yang kuat antara karakter guru dan karakter siswa.  Jangan-jangan banyak perilaku siswa yang menyimpang, karena juga ada gurunya juga berperilaku menyimpang.

Mulai remaja atau masa puber mulai muncul pusat pendidikan yang ketiga yaitu alam pergaulan. Pada masa ini anak (remaja)  mulai “menjauh” dari orangtuanya.

Remaja umumnya lebih percaya dengan teman sebaya dibandingkan dengan orangtuanya, kalau orangtua tidak mulai mempersiapkan diri. Remaja secara perlahan mengalihkan tolok ukur hidupnya dari orangtua kepada kelompok sebayanya.

Pengaruh teman sebaya (peer) memainkan peranan penting yang menentukan perkembangan perilaku. Remaja yang menerima pengaruh negatif teman sebaya (negative peer influence) akan mengembangkan perilaku antisosial, termasuk kekerasan, sebaliknya remaja yang menerima pengaruh positif teman sebaya (positive peer influence) merupakan faktor protektif terbaik menghindari perilaku menyimpang.

Apabila pada masa sebelumnya (alam-keluarga dan alam-perguruan), orangtua dan guru dituntut untuk memberikan pendidikan, melakukan kontrol perilaku, memberikan pengetahuan mengenai benar-salah, baik-buruk.

Namun saat anak memasuki masa remaja seyogyanya orangtua mulai mengubah strategi, yaitu dengan mengendurkan “tali” kontrol ke anak. Anak mulai diberikan tanggung jawab lebih, kepercayaan untuk mengambil keputusan.

Orangtua dan guru hendaknya bertindak sebagai penasehat, mengawasi dari “jauh”, dan bertindak jika diperlukan atau jika ada bahaya yang muncul.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan karakter dibangun melalui tiga pusat pendidikan (trisentra) ini. Orangtua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya tugas pendidikan guru kepada sekolah, sebaliknya sekolah tidak akan bisa mengembangkan karakter anak tanpa kerjasama dari orangtua.

Sementara itu orangtua dan sekolah juga tidak bisa mengabaikan pengaruh lingkungan pergaulan. Sejauh mana sekolah-sekolah kita saat ini memperhatikan tiga alam pendidikan tersebut?

Dari sini kita bisa menelaah lebih jauh kasus MH, bagaimana kondisi sehari-hari lingkungan sekitar dan teman sebayanya? Seperti apa pola asuh orangtuanya? Dan bagaimana cara guru mengajar?

Semua hal ini mempengaruhi kepribadian MH. Apabila memang kemudian ditemukan ada yang menyimpang, inilah yang dimaksud Kak Seto bahwa selain sebagai pelaku, MH juga bisa dikatakan sebagai korban.

 

Sumber :

Erik H. Erikson, Joan M. Erikson (1998), The Life Cycle Completed: Extended Version. W. W. Norton


Page:
Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X