“Pengabaian” Pengaruhi Perkembangan Otak Anak - Kompas.com

“Pengabaian” Pengaruhi Perkembangan Otak Anak

Kompas.com - 19/03/2018, 06:30 WIB
Ilustrasi otakWavebreakmedia Ltd Ilustrasi otak

Studi menarik dari laman APA (American Psychology Association) menunjukkan bahwa anak-anak yatim piatu yang dibesarkan di Romanian Institute for Abandoned Children (panti asuhan) memiliki ukuran kepala, volume otak yang relatif lebih kecil dan memiliki struktur basal ganglia (white matter) yang berbeda dengan anak-anak yang diasuh oleh pengasuh khusus (high-quality foster care) sejak lahir.

Meskipun anak-anak yang sejak lahir di panti ini kemudian diberikan pengasuh khusus pada usia 2 tahun, perbedaan volume otak ini tetap ditemukan dibandingkan dengan anak yang memiliki keluarga biologis sejak lahir.Penelitian ini dilakukan pada 2015 yang lalu.

Penelitian menemukan bahwa perkembangan otak terganggu secara signifikan melalui pengabaian “profoundly interrupted and perturbed and changed by neglect.” Kata Charles A. Nelson peneliti dari Harvard Medical School dan Boston Children’s Hospital. “Perubahan-perubahan yang semakin parah dapat dihindari dengan sedini mungkin diberikan pengasuhan khusus pada bayi.” Lanjut Nelson.

Proyek penelitian ini “The Bucharest Early Intervetion Project” dimulai sejak tahun 2000 dengan subyek 136 bayi terlantar yang sejak lahir hingga usia 2 tahun sudah tinggal di panti asuhan khusus untuk anak terlantar tersebut. Pada usia 2 tahun peneliti secara acak memindahkan setengah dari jumlah anak kepada orangtua asuh. Peneliti secara parallel juga melakukan penelitian yang sama pada anak yang memiliki keluarga biologis sejak lahir.

Panti asuhan ini memiliki jumlah pengasuh yang tidak sebanding dengan jumlah anak. Anak cenderung diabaikan secara psikologis, stimulasi sensori dan bahasa sangat minim. Bayi-bayi tersebut tumbuh dengan IQ rata-rata 70, di bawah rata-rata inteligensi normal 90-110.

“Pada semua pengukuran kami mendapatkan kerusakan.” Kata Nelson. Pengambilan data perkembangan otak dilakukan pada usia rata-rata 8 tahun menggunakan MRI (magnetic resonance imaging). Perbedaan signifikan muncul antara anak yang tetap tumbuh di panti asuhan, anak dengan orang tua asuh sejak usia 2 tahun, dan anak dengan keluarga lengkap pada struktur corpus callosum, sirkuit limbic, dan area sensory-processing.

Corpus callosum bekerja “menghubungkan” dua belahan otak. Kiri dan kanan. Proses ini penting dalam perkembangan bahasa. Kerusakan pada sistem ini juga mempengaruhi rentang perhatian dan sistem pengambilan keputusan.

Selain di Rumania, panti-panti asuhan dengan kualitas yang sama rendahnya juga ditemukan di Rusia. Studi menunjukkan orang tua asuh yang mengadopsi anak-anak dari panti asuhan tersebut memiliki masalah yang hampir sama. Anak dengan perkembangan kognitif, perkembangan psiko-sosial, dan rentang perhatian yang terganggu.

“Bahkan setelah 10 tahun diadopsi.” Kata Jamie L. Hanson, peneliti dan mahasiswa doktoral dari Duke University.

Perkembangan otak setelah anak dilahirkan bergantung pada lingkungan di sekitar anak, khususnya pada masa-masa perkembangan kritis 24 bulan pertama. Apabila stimulasi sensori dan lingkungan sosial tidak muncul pada masa tersebut, perkembangan otak sebagian besar bayi akan terganggu.

Bayi membutuhkan pengalaman-pengalaman khusus. Dalam usia 3 hari, bayi sudah akan mengenali air susu ibunya, selanjutnya ia akan mengenali wajah. Kemudian berkembang akan mengenali kedua orangtua dalam waktu beberapa minggu. Otak bayi tidak akan terstimulasi apabila interaksi hanya terjadi saat mengganti popok. Ketika penelitian ini pertama kali dipresentasikan. Pemerintah Rumania memberikan respon cepat dengan melarang anak di bawah usia 3 tahun diasuh di panti. Sebelum usia 3 tahun anak akan diberikan orang tua asuh.

Penelitian menunjukkan dari ketiga kelompok subyek. Peluang anak untuk diabaikan paling besar terjadi di panti, kemudian pada orang tua asuh. Pada orang tua biologis kemungkinan anak diabaikan kecil, sehingga gejala yang mengikuti juga jarang terjadi. Sementara itu di Indonesia dalam Standar Nasional Pengasuhan untuk Panti Asuhan dan Lembaga Asuhan. Pada Bab 1, standar 8, pasal 4 sudah disebutkan :

“Bayi dan anak sampai umur lima tahun harus selalu ditempatkan dalam pengasuhan alternatif berbasis keluarga dan hanya ditempatkan di panti/lembaga asuhan untuk periode waktu sangat singkat dan sebagai tindakan darurat sampai diperolehnya orangtua asuh atau orangtua angkat yang tepat.”

Meski masih sulit menemukan mekanisme kontrol yang menjamin standar tersebut terlaksana. Begitu pula dalam lingkungan keluarga. Tentu semua orangtua ingin anaknya bertumbuh kembang dengan sempurna. Padahal semakin banyak suami-istri yang bekerja full-time. Sehingga meski anak memiliki orangtua lengkap, interaksi dengan keduanya minim. Lebih banyak waktunya dihabiskan dengan kakek-neneknya, dengan guru daycare, atau bahkan pembantu. Melihat hasil penelitian di atas. Alangkah baiknya paling tidak dari lahir hingga usia 2 tahun orangtua, minimal ibu memberikan sebagian besar waktunya untuk anak.

Pemerintah sebaiknya juga bisa mencontoh Swedia, yang mengeluarkan peraturan cuti 420 hari (1 tahun lebih 55 hari) kepada ibu setelah melahirkan, dan 60 hari bagi ayah dengan gaji dibayarkan 80 persen. Atau di Norwegia yang memberikan kesempatan bagi Ibu untuk cuti selama 2 tahun. Karena bagaimanapun juga. Bayi-bayi tersebut yang nantinya akan tumbuh dengan sehat, cerdas, dan menjadi penopang kemajuan bangsa.

Sumber :
http://www.bucharestearlyinterventionproject.org/


Komentar

Terkini Lainnya

Revisi Perda Larangan Becak Dinilai Perlu Didorong Dibanding Gugat ke MA

Revisi Perda Larangan Becak Dinilai Perlu Didorong Dibanding Gugat ke MA

Megapolitan
Polri Pertanyakan Tersebarnya Video Kepala Korps Brimob sebagai Kapolda Metro Jaya

Polri Pertanyakan Tersebarnya Video Kepala Korps Brimob sebagai Kapolda Metro Jaya

Megapolitan
Sanksi untuk Pejabat Pemkot Bekasi Diberikan Setelah Sidang Majelis Kode Etik

Sanksi untuk Pejabat Pemkot Bekasi Diberikan Setelah Sidang Majelis Kode Etik

Megapolitan
Golput Bentuk Kekecewaan Publik, Parpol Didesak Berubah

Golput Bentuk Kekecewaan Publik, Parpol Didesak Berubah

Nasional
Anak Malas Belajar? Coba 5 Tips Ini untuk Membuat Rajin

Anak Malas Belajar? Coba 5 Tips Ini untuk Membuat Rajin

Edukasi
Sambut Obor Asian Games, Ada Gelaran Budaya di Taman Fatahillah

Sambut Obor Asian Games, Ada Gelaran Budaya di Taman Fatahillah

Megapolitan
Putin akan Hadiri Pernikahan Menteri Luar Negeri Austria

Putin akan Hadiri Pernikahan Menteri Luar Negeri Austria

Internasional
Biografi Tokoh Dunia: Enzo Ferrari, Pendiri Mobil Mewah Ferrari

Biografi Tokoh Dunia: Enzo Ferrari, Pendiri Mobil Mewah Ferrari

Internasional
Lantik Rektor, Binus Ajak Mahasiswa Memiliki Daya Saing

Lantik Rektor, Binus Ajak Mahasiswa Memiliki Daya Saing

Edukasi
Pembangunan Jalur Dwi Ganda dari Stasiun Manggarai Selesai Tahun 2020

Pembangunan Jalur Dwi Ganda dari Stasiun Manggarai Selesai Tahun 2020

Megapolitan
Diperiksa 9,5 Jam, Idrus Marham Ingin Urusan soal PLTU Riau-1 Tuntas

Diperiksa 9,5 Jam, Idrus Marham Ingin Urusan soal PLTU Riau-1 Tuntas

Nasional
Ibu Korban Pembunuhan di Jalan Ciherang Minta Pelaku Dihukum Seberat-beratnya

Ibu Korban Pembunuhan di Jalan Ciherang Minta Pelaku Dihukum Seberat-beratnya

Megapolitan
Ditinggal Pemiliknya, Seekor Angsa Jantan 'Diadopsi' Kampus di China

Ditinggal Pemiliknya, Seekor Angsa Jantan "Diadopsi" Kampus di China

Internasional
Ombudsman Minta Pj Wali Kota Bekasi Beri Sanksi ke Inspektorat, Kepala BKKPD, dan Kabag Humas  Bekasi

Ombudsman Minta Pj Wali Kota Bekasi Beri Sanksi ke Inspektorat, Kepala BKKPD, dan Kabag Humas Bekasi

Megapolitan
Ramai-ramai Wartawan Maju sebagai Caleg Partai Nasdem

Ramai-ramai Wartawan Maju sebagai Caleg Partai Nasdem

Nasional
Close Ads X