Apa Jadinya Indonesia Tanpa Wirausaha? - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Podomoro University

Apa Jadinya Indonesia Tanpa Wirausaha?

Kompas.com - 23/03/2018, 08:45 WIB

Rektor Podomoro University (PU) Dr. Cosmas Batubara menyaksikan para mahasiswa PU memamerkan bisnis Riget Flavours dalam pameran di Neo SOHO Podomoro City, Jakarta.
Podomoro University Rektor Podomoro University (PU) Dr. Cosmas Batubara menyaksikan para mahasiswa PU memamerkan bisnis Riget Flavours dalam pameran di Neo SOHO Podomoro City, Jakarta.


KOMPAS.com – Mau usaha? Tidak perlu takut dan banyak pertimbangan. Begitulah saran Presiden Joko Widodo saat berbagai cerita tentang pengalamannya berwirausaha dalam acara Penghargaan Wirausaha Mandiri, Kamis (12/3/2015) lalu, sebagaimana dilansir Kompas.com.

Menjadi wirausaha juga mesti berani berpikir out of the box dan berani keluar dari zona nyaman. “Biasanya kalau terlalu nyaman, takut ambil risiko,” ujar Jokowi saat itu.

Jumlah wirausaha menjadi salah satu penentu negara menjadi maju. Sayangnya, jumlahnya di Indonesia masih jauh di bawah negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.

Menurut Bank Dunia, syarat suatu negara punya perekonomian yang baik dan maju adalah minimal 4 persen warganya berwirausaha. Indonesia hingga kini baru punya 3,3 persen. Singapura 7 persen, dan Malaysia 5 persen.

Jika angka ideal ini terpenuhi, ada beberapa segi menguntungkan bagi Indonesia. Energi kreatif wirausaha, lazimnya, menciptakan hal ataupun produk baru yang memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia.

Bayangkan, jika Indonesia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, nilai impor barang dan jasa bisa ditekan. Laman bps.go.id menunjukkan, per Januari 2018, nilai impor Indonesia mencapai 15,13 miliar dollar AS.

Angka ini naik 0,26 persen ketimbang capaian pada Desember 2017. Sebaliknya, jika dibandingkan data pada Januari 2017, angka ini setara dengan peningkatan impor 26,44 persen.

Ironisnya, laman yang sama menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada Januari 2018 mencapai 14,46 miliar dollar AS, atau turun 2,81 persen ketimbang capaian ekspor pada Desember 2017.

Belajar sekaligus praktik

Di masa kini, wirausaha bisa lahir bukan karena faktor talenta belaka. Semangat berwirausaha itu bisa ditumbuhkembangkan melalui pendidikan. Sudah barang tentu, pendidikan yang mengedepankan teori dan praktik memadai, berikut etikanya.

Catatan Kepala Podomoro University Center of Entrepreneurial Leader Dr Wisnu Sakti Dewobroto menunjukkan, wirausaha menjadi penting di Indonesia. “Ini kekuatan bagi Indonesia maju ke depan,” tuturnya.

Rektor Podomoro University (PU) Dr. Cosmas Batubara menyaksikan para mahasiswa PU memamerkan bisnis BoxRow dalam pameran di Neo SOHO Podomoro City, Jakarta.Podomoro University Rektor Podomoro University (PU) Dr. Cosmas Batubara menyaksikan para mahasiswa PU memamerkan bisnis BoxRow dalam pameran di Neo SOHO Podomoro City, Jakarta.
Menurut hematnya, belajar menjadi wirausaha membutuhkan kreativitas sebagai modal utama. Inovasi, kerja keras, dan semangat pantang menyerah perlu ditanamkan untuk menghidupkan jiwa wirausaha.

Wirausaha, lanjutnya, bisa menciptakan lapangan kerja baru. “Dari sinilah kemakmuran suatu negara bisa terwujud,” katanya.

Bangku perguruan tinggi adalah lahan bagi mahasiswa untuk belajar memahami sekaligus mempraktikkan berbagai tantangan wirausaha.

Sebut saja tentang kerja bersama. Pada bagian ini, mahasiswa yang memiliki rencana sebuah proyek tidak bisa bekerja seorang diri. 

Misalnya, ada satu wilayah yang akan dikembangkan. Hal pertama yang harus dipertimbangkan adalah orang yang ahli dalam pengembangan wilayah atau tata wilayah.

Lantas, diperlukan juga arsitek untuk membuat rancang bangun yang akan dikerjakan oleh para insinyur sipil. Dari situ, dibutuhkan pula pengelolaan lingkungan.

Selanjutnya, bila sudah dibangun, diperlukan desainer untuk produk yang mengisi bangunan. Langkah berikutnya adalah kebutuhan penghitungan harga pokok penjualan. Ini tugas tim accounting.

Hal lain yang bisa dilakukan mahasiswa adalah mengembangkan proyek yang dibuatnya melalui pendampingan. Ini terwujud dengan keberadaan dosen maupun rekan mahasiswa, baik di angkatan yang sama maupun berbeda.

Bahkan, dalam kegiatan ini, mahasiswa pun bisa didampingi pengusaha. Sosok pengusaha yang sarat dengan pengalaman jatuh bangun dan sukses mengelola bisnisnya bisa menjadi mentor untuk mengembangkan wirausaha.

Rektor Podomoro University (PU) Dr. Cosmas Batubara menyaksikan para mahasiswa PU memamerkan bisnis Teh Menari dalam pameran di Neo SOHO Podomoro City, Jakarta.Podomoro University Rektor Podomoro University (PU) Dr. Cosmas Batubara menyaksikan para mahasiswa PU memamerkan bisnis Teh Menari dalam pameran di Neo SOHO Podomoro City, Jakarta.

Tak ketinggalan juga, dalam menjalankan praktik wirausaha, mahasiswa harus mengenal karakter dan etika berbisnis. Etika khas Indonesia yang kental dengan sikap saling menghormati. Inilah yang akan membedakan kualitas wirausaha Indonesia.

Pendidikan karakter dan budi pekerti yang sesuai dengan budaya bangsa menjadi bekal khusus yang diberikan Podomoro University kepada para mahasiswanya.

Bekerja sama dengan Babson Global Inc di Amerika Serikat, institusi pendidikan tinggi tersebut menggabungkan konsep kewirausahaan dan standar internasional di dalam kurikulumnya. Keseimbangan belajar dari teori dan pengalaman bekerja dipercaya bakal melahirkan sarjana yang siap bekerja dan juga siap berwirausaha.

Maka dari itulah, dengan berbagai upaya di atas, melalui dunia pendidikan, Indonesia bisa mencapai target menciptakan wirausaha yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat. Bayangkan, apa jadinya Indonesia tanpa wirausaha?
   

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar