Bondhan Kresna W.
Psikolog

Psikolog dan penulis freelance, tertarik pada dunia psikologi pendidikan dan psikologi organisasi. Menjadi Associate Member Centre for Public Mental Health, Universitas Gadjah Mada (2009-2011), konselor psikologi di Panti Sosial Tresna Wredha “Abiyoso” Yogyakarta (2010-2011).Sedang berusaha menyelesaikan kurikulum dan membangun taman anak yang berkualitas dan terjangkau untuk semua anak bangsa. Bisa dihubungi di bondee.wijaya@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan bisa dilihat di goo.gl/bH3nx4 

Permainan Anak Jaman Now, Apa Kata Ki Hajar Dewantara?

Kompas.com - 26/03/2018, 13:00 WIB
Ilustrasi anak-anak DragonImagesIlustrasi anak-anak

Menurut Ki Hajar pendidikan anak usia pra-sekolah dasar adalah latihan panca-indria. Latihan panca-indria akan lebih optimal apabila didapatkan melalui permainan. Jadi pendidikan anak adalah permainan itu sendiri!

Persis di sini interaksi anak-orangtua memberikan pengaruh yang sangat besar. Apakah kemudian kita harus mengijinkan anak bermain sepuasnya? Tentu saja tidak! Kalau demikian jadinya, tidak perlu ada orangtua.

Orang tua-lah yang seharusnya memegang kendali bagaimana anak mengoptimalkan panca-indrianya melalui bermain. Orangtua lah yang harus punya pengetahuan permainan apa saja yang akan mempengaruhi perkembangan anak.

Aspek yang dikembangkan melalui permainan tertentu, memberikan rambu-rambu, dan mengeliminasi permainan-permainan yang tidak bermanfaat. Dalam sebuah buku kecil seorang ibu rumah tangga dengan dua anak balita berjudul “Saat Kamu Bertambah Besar” yang disampaikan terbatas dari mulut ke mulut dan melalui Instagram ig @rumahmentariku.

Penulisnya seperti memberikan wejangan pada anak bahwa “Nak, kamu bebas bermain, tapi kamu punya batas mana yang boleh, mana yang tidak boleh.”

Lagipula, kita sebagai bangsa Indonesia memiliki kekayaaan mainan tradisional yang sayangnya sudah banyak ditinggalkan. Padahal permainan-permainan itu yang mewarnai perkembangan tokoh-tokoh pendiri negeri kita.

Mari kita simak sedikit penuturan Ki Hajar Dewantara dalam nukilan artikelnya di majalah Wasita, Jilid 1 No.1 bulan Oktober 1928 :

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

…Sedikit contoh bolehlah disebutkan disini. Permainan anak Jawa seperti : sumbar, gateng, unclang itu mendidik anak agar teliti, cekatan, dan menjernihkan penglihatan. Permainan dakon, cublak-cublak suweng, kubuk, itu mendidik anak tentang perhitungan dan pengiraan (pen-kognitif). Permainan gobag sodor, trembung, raton, cu, geritan, obrog, panahan, si, jamuran, jelungan itu bersifat sport, mendidik kuat sehatnya badan, kecekatan, dan keberanian (pen-motorik kasar). Permainan ngronce, menyulam janur, atau membuat tikar itu untuk pendidikan keteraturan dan tabiat tertib (pen-motorik halus). Nyatalah tidak usah kita mengadakan barang tiruan kalau memang kita sudah mempunyainya sendiri...

Sumber :
“Pendidikan” Kumpulan tulisan Ki Hajar Dewantara
“Saat Kamu Bertambah Besar” buku kecil tulisan Rahmawati Putri

https://grandchallenges.ucla.edu/happenings/2016/08/27/its-digital-heroin-how-screens-turn-kids-into-psychotic-junkies/

https://www.nytimes.com/2017/04/01/opinion/sunday/video-games-arent-addictive.html

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.