Kompas.com - 11/05/2018, 18:36 WIB
Ilustrasi media sosial ipopbaIlustrasi media sosial

KOMPAS.com - Hal ini disampaikan dalam acara Pre-Convention on Depression and Culture : “The Untold Story” yang merupakan pembuka dari rangkaian agenda Public Mental Health Weeks (PMHW) 2018 yang diadakan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Gadget atau gawai dan media sosial menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan generasi millenial. Namun, aktivitas di media sosial ternyata dapat menjadi salah satu pemicu depresi pada remaja.

“Kalau terlalu banyak informasi yang masuk tapi tidak ada filter, ini salah satu hal yang bisa menjadikan stres,” kata pakar kesehatan masyarakat, Prof. Siswanto Agus Wilopo, Rabu (9/5) di Fakultas Psikologi UGM seperti dikutip dari rilis humas UGM.

“Sosial media sejak lama sebenarnya menjadi faktor penting. Persoalannya sosial media itu bisa positif bisa negatif. Saat ini masing-masing individu tidak terlalu selektif dalam melihat informasi itu sehingga banyak negatifnya itu lebih diserap oleh anak-anak sekarang,” tambahnya.

Salah satu sumber tekanan media sosial yang dimaksud adalah pemahaman remaja terhadap gambaran diri. Banyak orang kini menjadikan konten-konten media sosial sebagai standar nilai sosial, khususnya yang berkaitan dengan penampilan.

Baca juga: Kisah Bahagia Tyas Anak Satpam yang Raih Gelar Doktor di UGM

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Prof. Siswanto Agus Wilopo, Rabu (9/5) di Fakultas Psikologi UGM.Dok. Humas UGM Prof. Siswanto Agus Wilopo, Rabu (9/5) di Fakultas Psikologi UGM.

Hal ini sering kali menimbulkan tekanan pada remaja untuk menampilkan diri agar sesuai dengan apa yang ia lihat di media sosial. Ini membuat mereka kehilangan kepercayaan diri dan depresi jika tidak mampu memenuhi standar tersebut.

Untuk menghindari efek tersebut, Siswanto remaja perlu memiliki kepekaan untuk memilah informasi positif dan negatif, serta memiliki daya tahan agar tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial yang muncul dari media sosial.

Ia menyebutkan bahwa salah satu upaya pencegahan depresi pada remaja terletak pada peran orang tua.

Pakar psikologi klinis, Prof. Sofia Retnowati di Fakultas Psikologi UGM (9/5/2018)Dok. Humas UGM Pakar psikologi klinis, Prof. Sofia Retnowati di Fakultas Psikologi UGM (9/5/2018)

Orang tua, menurutnya, perlu menjalin komunikasi yang baik dengan anak remajanya.

“Peran orang tua secara langsung harus menjalin komunikasi. Orang tua juga harus bisa melihat indikator-indikator apakah anaknya itu positif atau negatif,” kata Siswanto.

Berkaitan dengan hal tersebut, pakar psikologi klinis, Prof. Sofia Retnowati, memaparkan beberapa tanda depresi, di antaranya perubahan dalam sikap dan perilaku, turunnya rasa percaya diri, serta adanya kesulitan untuk berkonsentrasi.

“Saat ini orang bisa duduk bersama tapi sibuk dengan gadget mereka masing-masing, bukannya saling berinteraksi, padahal dukungan sosial ini yang perlu kita tingkatkan. Selain itu, olahraga juga bisa menangkal depresi,” kata dosen Fakultas Psikologi UGM ini.

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.