Melawan Fanatisme - Kompas.com

Melawan Fanatisme

Kompas.com - 18/05/2018, 21:23 WIB
Acara Sweet Talk UPH mengangkat tema Fanatisme (18/5)
Dok. UPH Acara Sweet Talk UPH mengangkat tema Fanatisme (18/5)

KOMPAS.com - Menyikapi masalah fanatisme yang berkembang belakangan ini, Kamis (17/5/2018), Universitas Pelita Harapan (UPH) dalam acara rutin bulanan Sweet Talk Café mengangkat tema "Fanatisme".

Acara yang diadakan di SoD (School of Design) Multifunction Room menghadirkan dua pembicara, yaitu Dr Fransisco Budi Hardiman, Koordinator dari History of Thought, salah satu mata kuliah di Fakultas Liberal Arts UPH, dan Chandra Han, ST selaku dosen Teachers College UPH.

UPH melihat bahwa banyaknya masalah yang terjadi karena fanatisme membuat kita harus lebih waspada dan bijak dalam menghadapi masalah ini.

"Fanatisme sendiri memiliki definisi sebagai cara berfikir, bersikap, berinteraksi, dan berkuasa yang meyakini kemutlakan pemahamannya sendiri dan memaksakan pemahamannya itu  kepada lingkungannya," kata Frans seperti dikutip dari berita resmi di laman website resmi UPH.

Baca juga: Benarkah Manusia Tidak Diciptakan Setara

Fanatisme juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti adanya pola asuh, lingkungan, proses marginalisasi, perubahan sosial yang didasari oleh pemikiran fanatik.

Namun, fanatik cenderung berkembang bila ada interaksi yang terlalu kompetitif atau ingin menang sendiri. Fanatisme biasa terjadi pada masyarakat yang majemuk atau berbeda kepercayaan karena adanya pilihan kultural.

Tema "Fanatisme" dipilih dalam Sweet Talk kali ini bertujuan mengembangkan gagasan-gagasan dan pengertian yang lebih mendalam tentang fanatisme sehingga kita tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain untuk terjebak pada provokasi dan perpecahan.

Chandra dan Frans memberikan tips agar dapat terhindar dari fanatisme. Frans menyampaikan, fanatisme dapat dikikis dengan cara memperkaya pengalaman kontak dengan ragam kebudayaan dan keyakinan. 

Chandra melihat perlunya pendekatan fanatisme justru membutuhkan pencerahan.

Frans kemudian menambahkan untuk mengajak setiap orang untuk saling menghargai perbedaan yang ada.


Terkini Lainnya


Close Ads X