Bondhan Kresna W.
Psikolog

Psikolog dan penulis freelance, tertarik pada dunia psikologi pendidikan dan psikologi organisasi. Menjadi Associate Member Centre for Public Mental Health, Universitas Gadjah Mada (2009-2011), konselor psikologi di Panti Sosial Tresna Wredha “Abiyoso” Yogyakarta (2010-2011).Sedang berusaha menyelesaikan kurikulum dan membangun taman anak yang berkualitas dan terjangkau untuk semua anak bangsa. Bisa dihubungi di bondee.wijaya@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan bisa dilihat di goo.gl/bH3nx4 

Mudik, Pemilu dan Stereotip Kepribadian

Kompas.com - 11/06/2018, 09:43 WIB
Ilustrasi mudik dengan mobil MPV. SHUTTERSTOCKIlustrasi mudik dengan mobil MPV.

“Cebong” (pendukung Jokowi) akan langsung menganggap “Kamvret” (pendukung Prabowo) tidak paham dan sebaliknya.

Lebih dari itu pagar-pagar itu kini semakin menyempit, bersilangan, semakin tinggi dan meruncing.

Stereotip menyesatkan

Sebuah kisah mengatakan bahwa dahulu kala Tuhan menjatuhkan sebuah cermin dari langit dan pecahannya terserak di seluruh muka bumi. Setiap orang di belahan bumi yang berbeda menemukan cermin itu dan tergetar oleh keajaibannya.

Mereka mulai mengenal penciptanya dari pantulan cermin tersebut dan Tuhan memerintahkan para penemu cermin untuk menyatukan kembali pecahan-pecahan tersebut dengan mengenal orang dari belahan bumi yang lain. Namun pekerjaan itu tidak pernah selesai.

Para penemu cermin mewariskan kisah dan tugas berat ini pada anak keturunannya sehingga kisah cermin tersebut menjadi sejarah dan membentuk bangsa-bangsa.

Namun bukan disatukan, pecahan cermin ajaib itu justru dipecah-pecah karena semua orang ingin memiliki. Mereka memperebutkan dan bahkan menggunakan sebagai senjata untuk melukai bangsa lain.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Setiap pemilik cermin merasa cerminnya yang paling asli.

Jadi sebenarnya apa yang membuat seseorang lebih asli daripada yang lain?

Jawabannya tidak ada. Menurut saya istilah “asli” itu sendiri lebih sering menyesatkan dan menyebabkan kita melakukan stereotip.

Hal ini yang mungkin ingin dihindari ‘Mbak’ tadi yang mengatakan “Saya bukan dari mana-mana, saya warga dunia”, supaya kita tidak terjebak pada over-generalisasi yang berpotensi merusak hubungan pertemanan.

Hal ini bisa kita terapkan juga pada pertanyaan “pemilu tahun depan kamu milih siapa?”. Kita bisa menjawab simpel saja: “Rahasia” atau “saya  belum menentukan.”

Menurut saya itu lebih baik daripada terjebak dalam perseteruan politik yang belum tentu ada manfaatnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.