Mendikbud: Kurikulum yang Sesungguhnya adalah Para Guru - Kompas.com

Mendikbud: Kurikulum yang Sesungguhnya adalah Para Guru

Kompas.com - 30/06/2018, 23:25 WIB
Mendikbud Muhadjir Effendy pada pelatihan dan pendampingan penerapan Kurikulum 2013 di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Tengah, Kamis (28/6/2018). Dok. Humas Kemendikbud Mendikbud Muhadjir Effendy pada pelatihan dan pendampingan penerapan Kurikulum 2013 di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Tengah, Kamis (28/6/2018).

KOMPAS.com - Sosok guru dalam proses pembelajaran seorang siswa dinilai sangat vital. Oleh karenanya, guru mesti memberi teladan pada muridnya dalam proses pendidikan.

“Kurikulum yang sesungguhnya adalah para guru. Maka, guru harus bisa memberikan teladan kepada anak muridnya," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam siaran tertulis, Sabtu (30/6/2018).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan bantuan pendampingan kurikulum 2013 kepada sekolah-sekolah.

Kegiatan itu di antaranya digelar di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Tengah, Kamis (28/6/2018) lalu.

(Baca: Pemerintah Optimistis Mampu Terapkan Kurikulum 2013 Tahun Ini)

Muhadjir berpesan pada para guru agar pembelajaran juga jangan terlalu kaku pada ketetapan kurikulum.

Oleh karenanya, ia berharap para kepala sekolah mampu membantu para guru memahami perannya sebagai pendidik, bukan sekadar pengajar.

Maka dari itu, pembelajaran yang diterapkan di sekolah haruslah fleksibel serta mampu memberikan ruang yang cukup untuk pengembangan diri siswa.

Sebelumnya, Muhadjir menjelaskan bahwa Kemendikbud telah menggulirkan beragam kebijakan dalam rangka merestorasi pendidikan nasional melalui sistem persekolahan.

Mendikbud pun mengajak para kepala sekolah yang hadir siang itu untuk menyelami dan merenungkan inti dari kebijakan yang ditempuh pemerintah selama dua tahun terakhir ini.

Baca: Pemerintah Kebut Pelatihan Guru Agar Bisa Terapkan Kurikulum 2013

Restorasi pendidikan dimulai dari revitalisasi komite sekolah, pengaturan hari sekolah yang diperkuat oleh Instruksi Presiden mengenai Penguatan Pendidikan Karakter, penerapan sistem zonasi, penyesuaian beban kerja guru, serta penguatan peran kepala sekolah.

"Satu sama lainnya saling berkelindan," ujarnya.

Target implementasi Kurikulum 2013

Plt. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Hamid Muhammad mengatakan, saat ini terdapat sekitar 78.000 sekolah yang memasuki tahap akhir implementasi Kurikulum 2013.

"Tahun ini adalah tahun terakhir pelatihan dan pendampingan Kurikulum 2013. Tahun ini semua sekolah harus menggunakan Kurikulum 2013 tanpa kecuali," kata Hamid.

Pendampingan sekolah penerima bantuan akan dilaksanakan mulai Agustus sampai Desember 2018.

Pendampingan untuk memperkuat pemahaman mengenai Kurikulum 2013 dan perubahannya di lapangan serta membantu mengatasi berbagai kendala yang muncul saat pelaksanaan kurikulum tersebut di sekolah.

(Baca: Pemerintah Optimistis Mampu Terapkan Kurikulum 2013 Tahun Ini)

Para pendamping diharapkan dapat mencermati dengan mendalam terkait apa saja yang terjadi di kelas.

Guru SDN Kadahang, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggunakan bahasa daerah setempat dalam proses belajar mengajar di sekolahDokumen Ajiep Guru SDN Kadahang, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggunakan bahasa daerah setempat dalam proses belajar mengajar di sekolah

Adapun target dari implementasi Kurikulum 2013 yang pertama adalah perubahan pendidikan karakter yang terintegrasi di sekolah, baik intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler.

Kedua, perubahan budaya literasi di sekolah. Misalnya, guru dapat menargetkan siswanya untuk menuntaskan 4 hingga 5 buku bacaan per tahun.

"Anak-anak jangan cuma disuruh untuk menghafal. HOTS (higher order thinking skills) itu bukan hanya milik anak SMA saja. Tetapi sejak dini harus diperkenalkan kepada peserta didik kita," ujarnya.

(Baca: Indonesia Kirim Guru ke Korea Pelajari HOTS)

Target ketiga, sekolah harus mampu memperkenalkan dan melatih keterampilan abad ke-21 ke peserta didik.

“Siswa harus dilatih untuk berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu berkolaborasi,” kata dia.

Terkait pendampingan di daerah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T), Hamid menegaskan akan memberikan penanganan secara khusus kepada sekolah-sekolah tersebut.

"Kami, melalui LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) yang akan mendatangi sekolah-sekolah tersebut," katanya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar
Close Ads X