Mencela - Kompas.com

Mencela

Kompas.com - 08/07/2018, 20:10 WIB
.Image Source Pink .


ENTAH kenapa orang paling pandai kalau mencela seseorang. Ada saja bahan sebagai celaan. Apalagi kalau sengaja dicari-cari. Disadari atau tidak disadari, sengaja atau tidak sengaja, mungkin semua orang pernah mencela. Bisa saja mencela hanya sebagai guyonan saja, tetapi bisa juga sangat serius apabila terselubung maksud tertentu.

Tetapi anehnya ada orang yang memang memiliki “hobi” mencela. Kalau tidak mencela seperti ada yang kurang. Saking seringnya mencela, menjadi hal biasa dan tidak merasa bersalah lagi.

Makna mencela

Dalam kamus Tesaurus  Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko (Gramedia Pustaka Utama, 2006) arti cela yaitu cacat, cedera, aib, fadihat, keburukan,  kecewa, kejelekan, kekurangan, kenistaan, noda, belang, borok, retak, kecaman, komentar, kritik.

Sedangkan arti mencela yaitu mencacat, men?ecam, mengkritik, meledek, mencemeeh, mencemooh, mengata-ngatai, mengejek, menggonjak, menghina, mengolok-olok, melecehkan, menyepelekan, meremehkan, mencebik, mencibir, mengecimus.

Mencela bisa diartikan sedang membuka borok seseorang karena membeberkan noda dan kekurangannya, cenderung mengkritik dan mengecam.

Tak bisa disangkal, ketika mencela berpotensi menimbulkan perselisihan atau pertengkaran. Rasanya jarang orang yang dicela menerima dengan lapang dada, apalagi dengan hati yang gembira. Sebaik-baiknya mencela, tetap dianggap menohok seseorang.

Mencela sama dengan mengkritik?

Mencela konotasinya negatif. Namun, ada orang yang berkilah bahwa mencela yang dilakukannya sekadar melontarkan kritik saja. Tetapi jangan lupa, biarpun mengkritik adalah satu bagian dari makna mencela, tetapi pada dasarnya mencela tidak dapat disamakan dengan mengkritik.

Menurut kamus KBBI (Depdiknas, 2014) arti kritik adalah kupasan kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya atau pendapat.

Jadi, mengkritik sifatnya lebih membangun karena memberi saran dan pertimbangan baik buruk sehingga bisa memperbaiki perilaku atau kesalahan tertentu. Intinya, mengkritik levelnya lebih baik ketimbang mencela.

Kenapa mencela?

Orang yang hobi mencela dicurigai punya iri hati terpendam. Sering kita dengar omongan: iri tanda tak mampu.

Bisa jadi pencela ini ingin memiliki posisi yang sama dengan orang yang dicela, tetapi tidak kesampaian. Sebaliknya, mungkin juga pencela malah ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih mampu. Dengan kata lain, iri hati yang dimilikinya terselubung ambisi pribadi tersembunyi.

Oleh karena itu, tak heran bila pencela sering bersikap impulsif. Sikap yang mengungkapkan alasan tak masuk akal dengan mencari sisi buruk dan semua kekurangannya.

Bahkan, kadang berlebihan karena rasa tak suka. Lebih parah lagi kalau dilandasi rasa benci. Maka, pencela yang tak bisa mengontrol dirinya, sering terpeleset pada ranah fitnah.

Bullying verbal

Menurut psikolog Barbara Coloroso (2007), orang yang suka mencela termasuk mempraktikkan bullying verbal. Dikatakan demikian karena sifat bullying verbal itu mengejek, mengolok-olok, mencemooh, menghina, memfitnah, mencela.

Bullying verbal biasanya dilakukan berkali-kali dengan tujuan merendahkan. Di samping itu, bullying verbal dilakukan dengan ucapan yang dilontarkan secara langsung dan tidak langsung. Harapannya menjatuhkan mental orang yang dicela.

Apabila orang yang dicela tampak sedih dan menderita, maka pencela tampak gembira. Tetapi, kalau orang yang dicela kelihatan cuek saja dan tidak menanggapi, maka pencela akan terlihat uring-uringan.

Orang yang hobi mencela adalah orang yang tidak mau berkaca diri. Selain itu, apabila sedang mencela orang lain, sebenarnya sedang mencela dirinya sendiri.

Orang yang suka mencela persis seperti peribahasa yang mengatakan: gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak. Orang mudah melihat kekurangan orang lain, sebaliknya sulit melihat kekurangan dirinya sendiri.


Komentar
Close Ads X