Mahasiswa Australia Belajar Keanekaragaman Hayati di UGM

Kompas.com - 20/07/2018, 17:36 WIB
Mahasiswa Australia belajar keanekaragaman hayati di UGMDok. Humas UGM Mahasiswa Australia belajar keanekaragaman hayati di UGM

KOMPAS.com - Dua mahasiswa Charles Darwin University, Australia mempelajari keanekaragaman hayati Indonesia lewat program summer course Central Java Field Intensive (CJFI-2018)” yang diselenggarakan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada ( UGM).

Selama 10 hari, mulai 2-13 Juli lalu kedua mahasiswa tersebut belajar beragam hal. Mulai dari melakukan analisis vegetasi bakau, belajar memahami pengelolaan kawasan bakau berbasis masyarakat, serta menganalisis ancaman anthropogenik di kawasan sand dune.

1. Mengeksplorasi Kulonprogo

Dalam kegiatan tersebut mereka juga diajak mengenal lebih dekat hepertofauna yang ada di Kulon Progo. Mereka diajak untuk sampling herpetofauna di Taman Sungai Mudal Kulonprogo dan mengidentifikasi serta tabulasi data sampling herpetofauna yang didapat.

 

Baca juga: UGM Mewisuda 1.083 Lulusan Pascasarjana

Dilansir dari laman resmi UGM, para mahasiswa dari Australia tersebut juga diberikan pelatihan pembuatan awetan tulang burung.

Pada saat penutupan summer course, Dekan Fakultas Biologi UGM Budi Setiadi Daryono, menyampaikan melalui kegiatan itu diharapkan dapat semakin memperkuat kerja sama antara Fakultas Biologi UGM dengan Fakultas Ilmu Lingkungan Universitas Charles Darwin. 

2. Mahasiswa ASEAN

13 Mahasiswa ASEAN mengambil program pascasarjana di UGMDok. Humas UGM 13 Mahasiswa ASEAN mengambil program pascasarjana di UGM

Tidak hanya itu, sebanyak 13 mahasiswa asing dari berbagai negara di kawasan ASEAN berhasil menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Fakultas Teknik UGM.

Ketiga belas mahasiswa ini mendapatkan beasiswa dari program AUN SEEDNET serta KNB Dikti untuk meraih gelar master di UGM.

Dekan Fakultas Teknik UGM Prof. Nizam, mengungkapkan keberadaan mahasiswa asing menjadi bagian tidak terlepaskan dari internasionalisasi pendidikan tinggi yang merupakan satu keniscayaan.

Dengan semakin terbukanya hubungan antar negara, mobilitas manusia yang semakin luas dan cepat, kemajuan teknologi informasi, telekomunikasi dan transportasi, semua mendorong pada keharusan perguruan tinggi untuk mendunia.



Close Ads X