Catat, Sukses Datang Dari Keberanian Ambil Risiko - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Prasetiya Mulya

Catat, Sukses Datang Dari Keberanian Ambil Risiko

Kompas.com - 08/08/2018, 06:47 WIB
Ilustrasi berani menerima risikoSkyline (SHUTTER STOCK) Ilustrasi berani menerima risiko

KOMPAS.com - Masih ingat dengan cerita sukses Thomas Alfa Edison, ilmuwan asal Amerika ini berhasil menciptakan lampu pijar listrik untuk kali pertama di dunia setelah mengalami kegagalan percobaan sebanyak ribuan kali.

Adapun untuk membuat temuannya bisa dipasarkan, seperti dimuat wired.com, pada waktu itu (sekitar tahun 1879) Thomas harus menghabiskan dana sekitar 40.000 dollar Amerika Serikat.

Bisa jadi kalau Thomas tidak berani mengambil risiko untuk membuat lampu pijar listrik, maka dunia pada malam hari tidak akan seterang sekarang. Namun, dia berani ambil risiko.

Belajar dari cerita Thomas, berani mengambil risiko adalah langkah terpenting yang seseorang harus lakukan supaya sukses melakukan sesuatu. Hal ini pun diakui oleh Yohanes Sugihtononugroho.

CEO dan Co Founder Crowde.Co ini mengaku, kalau keberhasilannya dalam membangun perusahaan rintisan atau start up tersebut karena berani mengambil risiko.

Crowde.Co sendiri adalah platform digital untuk menghimpun dana dari masyarakat sebagai modal kerja petani. Masyarakat baru akan mendapatkan keuntungan bila proyek komoditas pertanian yang mereka modali panen dan punya harga jual bagus di pasaran.

"Bisnis ini kurang dilihat banyak orang karena permasalahan di desa biasanya tidak menarik. Apalagi menyangkut petani karena kotor dan tidak menarik," kata Yohanes kepada Kompas.com, Kamis (26/7/2018).

Bukan hanya tidak menarik, bisnis platform yang Yohanes kembangkan juga mengalami kendala pada tahun awal-awal berdiri. Petani tidak mau bergabung dengan perusahaannya karena tak percaya akibat belum ada bukti atau hasilnya.

Adapun tantangan dari sisi investor, kata dia, adalah untuk menyakinkan mereka supaya mau menaruh modal guna membantu petani Indonesia. Namun, perlahan-lahan mereka mau menanamkan modal karena perusahaannya selalu transparan terhadap sistem bisnis dan risiko proyek yang ingin pemodal danai.

CEO dan Co Founder Crowde.Co Yohanes SugihtononugrohoTribunnews.com CEO dan Co Founder Crowde.Co Yohanes Sugihtononugroho

"Dari tahun pertama berdiri (2015) sampai 2016 kami tidak ambil untung sama sekali dari proyek. Semua biaya operasional ditanggung saya dan teman," ucap Yohanes.

Baru pada April 2017, perusahaannya sudah mendapatkan keuntungan berkisar Rp 60 - 200 juta setahun. Jumlah karyawan pun berkembang dari awalnya dua orang sekarang menjadi 28 karyawan.

"Di akhir tahun 2017 kami mendapatkan angel investor atau investor murah hati yang menyuntik dana sekitar 100.000 dollar AS ke Crowde.Co," tutup Yohanes.

Atas pencapaiannya itu tak mengherankan bila Yohanes masuk dalam daftar 30 Under 30 Asia Forbes 2018. Daftar ini berisi 30 anak muda berusia di bawah 30 tahun yang paling berpengaruh di Asia.

Mencari tantangan baru

Tentu selain berani mengambil risiko, baik Thomas Alfa Edison dan Yohanes adalah seorang fighter atau petarung. Ini karena mereka merasa tertantang dengan keadaan sekitar sehingga berani mengambil risiko untuk memperbaiki keadaan di sekitarnya.

Hal sama sebenarnya berlaku pula bagi karyawan yang sedang meniti karier di dunia kerja. Karier mereka bisa melejit bila berani mencari dan mengambil tantangan baru serta siap menerima risiko yang dihadapi.

Contoh seperti Stella Ryani Gunawan. Wanita yang pernah bekerja sebagai Section Head of Product Marketing and Sales of Business and Industrial di PT. Sony Indonesia ini menyatakan, dirinya tidak mungkin bisa mengisi posisi itu bila tidak mencoba tantangan baru.

"Jadi setelah saya kerja sebagai Senior Product Sales and Marketing Supervisor di Sony Indonesia selama 3 tahun, saya memberanikan diri ikut international career program karena ingin sesuatu yang baru," ungkap Stella.

Alumni Universitas Prasetiya Mulya Stella Ryani Gunawan menceritakan tentang karirnya di PT Sony Indonesia dalam acara Learning Today Leading Tomorrow di Universitas Prasetiya MulyaDok Prasetiya Mulya (www.ceritaprasmul.com) Alumni Universitas Prasetiya Mulya Stella Ryani Gunawan menceritakan tentang karirnya di PT Sony Indonesia dalam acara Learning Today Leading Tomorrow di Universitas Prasetiya Mulya

Setelah melalui serangkaian tes, Stella lalu diterima bekerja sebagai Senior Product Marketing Supervisor di Sony Hong Kong. Selang satu tahun kemudian karena pengalaman dan kinerjanya, dia kemudian ditawari bekerja di Sony Malaysia sebagai Assistant Product Marketing and Sales Manager.

Baru setelah satu tahun bekerja di negeri jiran, Sony Indonesia memintanya kembali bekerja di tanah air sebagai Section Head. Namun, bukan Stella namanya kalau tidak mencari tantangan baru.

Pada akhir Januari 2018, wanita berusia 30 ini memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan multinasional tersebut dan beralih profesi sebagai pengusaha.

"Sudah saatnya saya resign dari Sony untuk mengejar cita-cita menjadi entrepreneur. Kebetulan keluarga juga ada usaha sebagai pemasok pakaian seragam korporasi dan hotel serta pemasok barang-barang untuk kebutuhan event promosi. Jadi saya putuskan untuk menangani bisnis ini” kata dia.

Harus punya bekal mumpuni

Jelas, untuk bisa menerima tantangan dan menghadapi risiko dalam dunia kerja dan usaha, seseorang harus punya bekal kemampuan yang mumpuni.

Selain belajar dari keluarga dan orang lain, seseorang dapat pula belajar dari lembaga pendidikan untuk mengasah dan mengembangkan kemampuannya. Contohnya seperti yang Yohanes dan Stella dapatkan.

Alumni strata satu (S1) Universitas Prasetiya Mulya ini mengaku, apa yang mereka dapatkan selama di bangku kuliah benar-benar bermanfaat untuk membawa keduanya hingga ke posisi seperti sekarang.

“Waktu kuliah saya banyak dikasih tugas kelompok untuk buat presentasi dan business plan. Jadi soft skills untuk komunikasi, manajerial kelompok (kepemimpinan), memecahkan masalah, dan negosiasi saya benar-benar berkembang di sana. Ini sangat berguna buat saya dalam meniti karier di dunia kerja,” ungkap Stella.

Sementara itu, Yohannes mengatakan bahwa hal terpenting yang dia dapatkan selama kuliah adalah membangun relasi atau networking. Dia mengaku jaringan pertemanan dan komunitas di kampus sangat membantu dirinya dalam membangun bisnis.

“Teman-teman dan komunitas di sana punya koneksi langsung ke dunia bisnis dan mereka sangat membantu saya dalam membangun Crowde.Co,” kata dia.

Lebih dari itu, lanjut Yohannes, dia pun mendapatkan ilmu tentang sustainability atau berkelanjutan dalam bisnis. Jadi, sebuah usaha bisa berhasil bila produk atau jasa yang ditawarkan mampu terus menerus dipakai orang tanpa merugikan pihak manapun.

Apa yang Stella dan Yohannes dapatkan memang sesuai dengan prinsip dan nilai dari Universitas Prasetiya Mulya yang fokus pada pembentukan pola pikir dan karakter kewirausahaan.

Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan pun diharapkan dekat dengan dunia bisnis dan profesional sehingga punya keberanian untuk menerima tantangan dan risiko. Dua hal yang menjadi modal dasar untuk bisa berhasil dalam dunia usaha dan kerja.

Nah, bagi siswa-siswi sekolah menegah atas (SMA) yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi di sana pada 2019, saat ini, pendaftaran pun sudah bisa dilakukan.

 

 

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: