Kolaborasi "Mencabut Semeru" dan "Guncang Dunia" President University

Kompas.com - 04/09/2018, 16:32 WIB
President University mengadakan seminar bertema Masa Depan Perguruan Tinggi Menghadapi Industri 4.0 di President Lounge, Jakarta (4/9/2018). Dok. Kompas.comPresident University mengadakan seminar bertema Masa Depan Perguruan Tinggi Menghadapi Industri 4.0 di President Lounge, Jakarta (4/9/2018).

KOMPAS.com - President University menggelar seminar bertema "Masa Depan Perguruan Tinggi Menghadapi Industri 4.0" di President Lounge, Jakarta (4/9/2018). 

Kali ini President University mengundang Prof Frank Coton, Vice Principal Glasgow University, Inggris. Glasgow University merupakan universitas Inggris tertua ke-4 di dunia sekaligus universitas tempat lahirnya revolusi industri pertama di mana James Watt penemu mesin uap dan juga Adam Smith ahli teori kapitalisme bernaung.

John Scott Younger, Counsellor President University, moderator acara menambahkan Glasglow University sangat berperan aktif dalam perkembangan teknik sipil, dunia kedokteran dan infrastruktur secara global sejak tahun 1451 hingga saat ini.

1. Pendidikan tinggi sebagai ekosistem riset

Prof Frank kepada Kompas.com menyampaikan, saat ini dunia pendidikan tinggi harus bertransformasi agar siap menyongsong Era Industri 4.0. "Pendidikan tinggi dituntut tidak lagi hanya menjadi tempat pembelajaran, melainkan juga tempat di mana riset dapat tumbuh dan dan berkembang," jelas Frank.

Frank menambahkan, pendidikan tinggi harus mampu menciptakan ekosistem di mana riset menjadi inti dari pembelajaran mahasiswa untuk nantinya dapat menginspirasi, memberikan dampak dan perubahan pada masyarakat.

Baca juga: Tak Hanya di Indonesia, Lulusan PGSD President University Siap Mengajar di Luar Negeri

Tiga pilar pendidikan tinggi di masa mendatang akan bertumpu pada pembelajaran, riset dan pemberdayaan masyarakat. 

Di tingkat Asia Tenggara, Frank menggambarkan bagaimana reputasi universitas kini telah dibangun berdasarkan riset-riset yang telah dilakukan. "Berdasarkan QS Ranking, National University of SIngapore dan Nanyang Technological University secara konsisten sejak 2012 hingga kini menjadi yang terbaik di Asia Tenggara karena riset-riset yang mereka hasilkan," ujar Frank.

2. Analogi kerjasama tua muda ala Bung Karno

Dalam kesempatan yang sama, S.D. Darmono, pendiri President University yang baru saja mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Glasgow University mengharapkan kerjasama antara President University dan Glasgow University dapat menjadi kolaborasi ideal.

"Glasgow University telah berdiri lebih dari 600 tahun dan President University baru berdiri tahun 2001. Perbedaan antara 'tua' dan 'muda' ini diharapkan dapat menjadi kolaborasi seperti yang digambarkan Bung Karno dulu," ujar Darmono.

Darmono menjelaskan President University dapat belajar dari pengalaman Glasgow University seperti analogi Bung Karno yang menggunakan orang tua untuk mencabut "Semeru" atau belajar "mencabut akar kesalahan-kesalahan masa lalu" yang pernah dilakukan generasi sebelumnya. 

Sebaliknya, sebagai universitas 'muda' President University dengan idealisme dan semangat tinggi diharapkan mampu 'mengguncang dunia' seperti harapan presiden pertama Indonesia, Soekarno.

"Kita dapat belajar bagaimana Glasgow University melahirkan dan mengantisipasi revolusi industri pertama yang waktu itu membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Sama seperti saat ini memasuki era industri 4.0 juga akan membuat banyak orang kehilangan pekerjaan," jelas Darmono.

3. Tantangan pendidikan tinggi Indonesia masa depan

Prof. Frank Coton, Vice Principal Glasgow menjadi pembicara kunci dalam seminar Masa Depan Perguruan Tinggi Menghadapi Industri 4.0 yang diadakan President University (4/9/2018)Dok. Kompas.com Prof. Frank Coton, Vice Principal Glasgow menjadi pembicara kunci dalam seminar Masa Depan Perguruan Tinggi Menghadapi Industri 4.0 yang diadakan President University (4/9/2018)

Selanjutnya Prof Frank Coton menyampaikan ada 2 tantangan pendidikan tinggi Indonesia di masa mendatang. "Pertama adalah bagaimana pendidikan tinggi Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan era digital yang terjadi saat ini, termasuk juga meningkatkan kualitas yang sudah ada saat ini," kata Frank.

Tantangan kedua, menurut Frank adalah bagaimana pendidikan tinggi Indonesia mampu untuk kian eksis dalam percaturan riset global. "Saat ini saya melihat pendidikan tinggi Indonesia memiliki potensi riset untuk dioptimalkan agar mampu berbicara lebih di kancah internasional. Saya menunggu peneliti-peneliti Indonesia untuk memperoleh penghargaan dunia, seperti Nobel misalnya," harap Frank.

Darmono menambahkan, setidaknya ada 3 hal yang perlu dibenahi dalam mempersiapkan lulusan yang mampu menghadapi era industri 4.0.

"Pertama dari sisi siswa mereka perlu untuk membangun tidak saja secara akademis mampu juga membentuk karakter yang baik. Kedua dari pihak pendidikan tinggi juga perlu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada di era digital. Terakhir, pemerintah melalui regulasi dan kebijakan dapat mendukung dunia pendidikan di Indonesia," ujar Darmono.

Jesy Yolanda, Marketing Corporate Jababeka & Co di mana President University bernaung menyampaikan acara ini diadakan untuk menjawab misi Presiden Joko Widodo yang telah meluncurkan "Making Indonesia 4.0" bulan April 2018 lalu.

"Ini menjadi komitmen kami untuk membangun industri manufaktur Indonesia yang berdaya saing global dan merevitalisasi industri nasional secara menyeluruh," harap Jesy.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X