Diskusi Dana BOS dan Mutu Pendidikan antara Kemendikbud dan Bank Dunia

Kompas.com - 05/09/2018, 23:11 WIB
Kemendikbud dan Bank Dunia menggelar diskusi ?Discussion on Policy Reform Priorities and International Experience? di Gedung A, Kemendikbud Jakarta pada Selasa (4/9/2018). Dok. KemendikbudKemendikbud dan Bank Dunia menggelar diskusi ?Discussion on Policy Reform Priorities and International Experience? di Gedung A, Kemendikbud Jakarta pada Selasa (4/9/2018).

KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) bersama Bank Dunia menggelar diskusi membahas peningkatan kualitas Pendidikan di Indonesia. Diskusi berjudul “Discussion on Policy Reform Priorities and International Experience” diadakan di Gedung  Kemendikbud Jakarta pada Selasa (4/9/2018).

Beberapa hal yang menjadi sorotan dalam diskusi ini adalah terkait perekrutan guru, pemanfaatan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan asesmen pendidikan.

1. Komitmen meningkatkan kualitas

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Totok Suprayitno menyampaikan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ia juga menyampaikan bahwa kebijakan terkait guru termasuk rekrutmennya sudah ada.

Para guru pun sangat antusias melakukan perubahan-perubahan dalam peningkatan kompetensi guru. Selanjutnya tentang asesmen, Balitbang telah melakukan beberapa perubahan di dalam bidang ini.

Baca juga: Kemendikbud dan Menpan RB Siap Angkat 100 Ribu Guru Baru

“Kualitas harus menjadi perhatian utama di dalam pengembangan pendidikan dari semua aspek. Oleh karena itu, dari tiga hal tadi, bagaimana BOS (bantuan operasional sekolah) yang merupakan bantuan kecil, in total sangat besar juga. (namun) Dengan kebutuhan BOS belum mencukupi, dan bagaimana dorongan tadi bisa meningkatkan kualitas,” jelas Totok seperti dikutip dari laman resmi Kemendikbud.

2. Empat kunci kualitas pendidikan 

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Supriano, mengatakan ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan mutu pendidikan.

“Mutu bisa bagus ada beberapa faktor yang pertama kebijakan jelas, yang pasti tidak berubah-ubah. Kedua, school base manajemen itu jalan di sekolah. Ekosistem terhadap satuan pendidikan jalan. Sarana prasarana yang ketiga. Yang keempat, proses pembelajaran yang baik, dan proses ini ditentukan oleh guru,” ujarnya.

Sebelumnya, dari pihak Bank Dunia, Noah Yarrow menyampaikan hasil studinya tentang kualitas pendidikan dan guru di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, India, dan Singapura. Dalam studinya, ia mempelajari keterkaitan antara kualitas dan tunjangan guru dengan prestasi peserta didik.

3. Komitmen dalam perekrutan guru 

Ia menyampaikan tentang bagaimana sebaiknya tahapan dalam melakukan perekrutan guru baru. “Ada tahap penyeleksian. Diperlukan komitmen dalam merekrut guru baru. Jadi ini ada peluang, juga bahaya, untuk mengakomodasi gelombang besar dari perekrutan guru,” tutur Noah.

“Hanya orang-orang terbaik dan hanya lulusan terbaik yang bisa menjadi guru di Singapura. Sekarang (di Indonesia) lebih fleksibel persyaratannya, yaitu minimum S1, Tes BKN, ujian khusus dari Kemendikbud,” lanjutnya.

Diskusi juga dihadiri perwakilan berbagai instansi terkait, di antaranya Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), serta para pegiat pendidikan. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X