Hari Aksara Internasional, Literasi Keluarga Bantu Kurangi Buta Aksara - Kompas.com

Hari Aksara Internasional, Literasi Keluarga Bantu Kurangi Buta Aksara

Kompas.com - 08/09/2018, 23:06 WIB
Seorang relawan dari Komunitas Tanah Ombak sedang mengajar membaca kepada anak-anak di kawasan Sebrang Pabayan, tepi Sungai Batang Arau, Padang, Sumatera Barat, Minggu (16/7/2017). Tanah Ombak meluncurkan kegiatan pustaka bergerak yang diberi nama Vespa Pustaka untuk menjangkau anak-anak di Kota Padang yang membutuhkan akses pendidikan lewat buku bacaan.KOMPAS.com / RAMDHAN TRIYADI BEMPAH Seorang relawan dari Komunitas Tanah Ombak sedang mengajar membaca kepada anak-anak di kawasan Sebrang Pabayan, tepi Sungai Batang Arau, Padang, Sumatera Barat, Minggu (16/7/2017). Tanah Ombak meluncurkan kegiatan pustaka bergerak yang diberi nama Vespa Pustaka untuk menjangkau anak-anak di Kota Padang yang membutuhkan akses pendidikan lewat buku bacaan.

KOMPAS.com - Yohan Rubiyantoro Subdit Kemitraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) terkait Hari Aksara Internasional, 8 September, menyampaikan gerakan literasi keluarga dapat membawa manfaat terhadap pengurangan angka buta aksara.

Pendampingan keluarga dapat membuat anak menjadi melek aksara. Hal ini misalnya, dapat dilakukan dengan mendampingi anak-anak dalam membacakan buku, atau mendongeng bersama.

Gerakan literasi keluarga memiliki beragam kegiatan. Antara lain literasi baca tulis, yakni keluarga memiliki kemampuan mengakses, memahami, dan mengolah informasi saat membaca dan menulis.

Selain itu juga ada ragam Literasi Digital, yaitu kemampuan menggunakan dan mengelola media digital secara bijak, cerdas, cermat, dan tepat untuk berinteraksi serta mendapatkan informasi yang bermanfaat. Lantas literasi finansial, yakni kecakapan keluarga dalam mengelola keuangan demi terciptanya kesejahteraan keluarga.

Berdasarkan data dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud tahun 2017, penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,93 persen, atau tinggal sekitar 2,07 persen atau 3.387.035 jiwa (usia 15-59 tahun).

Baca juga: Hari Aksara Internasional, Mendikbud Ingatkan Literasi Berbudaya

”Indonesia telah membuktikan keberhasilan dengan mencapai prestasi melebihi target Pendidikan untuk Semua (PUS) Dakar, 23 provinsi sudah berada di bawah angka nasional masyarakat buta aksaranya,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas) Harris Iskandar, beberapa waktu lalu.

Masih terdapat 11 provinsi memiliki angka buta huruf di atas angka nasional yaitu Papua (28,75 persen), NTB (7,91 persen), NTT (5,15 persen), Sulawesi Barat (4,58 persen), Kalimantan Barat (4,50 peren), Sulawesi Selatan (4,49 persen), Bali (3,57 persen), Jawa Timur (3,47 persen), Kalimantan Utara (2,90 persen), Sulawesi Tenggara (2,74 persen), dan Jawa Tengah (2,20 persen). Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah berada di bawah angka nasional.

Jika dilihat dari perbedaan gender, tampak bahwa perempuan memiliki angka buta aksara lebih besar jika dibandingkan dengan laki-laki dengan jumlah, yakni 1.157.703 orang laki-laki, dan perempuan 2.258.990 orang.


Terkini Lainnya


Close Ads X