Memberdayakan "Entrepreneur" Muda lewat DSC 2018 - Kompas.com

Memberdayakan "Entrepreneur" Muda lewat DSC 2018

Kompas.com - 12/09/2018, 14:59 WIB
Helmy Yahya salah satu Dewan Komisioner (Dekom) dan juri serta mentor kompetisi wirausaha Diplomat Success Challenge (DSC) ke-9.Dok. Wismilak Foundation Helmy Yahya salah satu Dewan Komisioner (Dekom) dan juri serta mentor kompetisi wirausaha Diplomat Success Challenge (DSC) ke-9.

KOMPAS.com - Tidak mudah bagi wirausahawan atau entrepreneur mengembangkan bisnis yang dirintisnya. Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Helmy Yahya menyampaikan, "Di antara ribuan pemula dan perintis, tidak lebih 5% yang berhasil menjadi wirausahawan sukses".

"Ide saja tidak cukup, perlu bekal ilmu, serta pengalaman praktis," jelas Helmy, Dewan Komisioner (Dekom), sekaligus juri dan mentor kompetisi wirausaha Diplomat Success Challenge (DSC) ke-9.

DSC merupakan kompetisi pencarian wirausaha memperebutkan total hibah modal usaha senilai 2 miliar rupiah. Dalam mencari para pemenang, Dekom memberikan tantangan (market challenge) kepada peserta DSC untuk menguji penguasaan aspek strategi dan operasional bisnis (Paham), solusi teknis dan inovasi (Piawai) juga kepribadian sebagai pengusaha tangguh (Persona).

1. Orisinalitas ide bisnis

Nilai tambah dari DSC adalah para pemenang akan dikawal dan dibimbing oleh Dekom yang terdiri dari 4 orang, mulai dari inspirasi bisnis, perencanaan, kurasi, hingga evaluasi bisnis.

”Asal tahu saja, beberapa di antara mereka (peserta) itu, ada yang tidak bisa berhitung, sehingga tidak tahu fixed cost (biaya tetap) dan variable cost (biaya tidak tetap) dalam bisnis, misalnya,” ujar lulusan STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negeri) dan juga pemilik gelar Master of Professional Accounting dari Universitas Miami itu.

Baca juga: DSC 2018 dan Upaya Memacu Tumbuhnya Wirausahawan Muda Indonesia

Ia menggarisbawahi, DSC juga menghargai ide orisinil para peserta sehingga ide-ide yang masuk harus genuine dan memberi manfaat.

"Banyak juga mereka yang menjadi socio-preneur dan dapat menciptakan lapangan kerja,“ tambah Helmy. Selain sociopreneur, Helmy juga banyak menemukan unsur heroisme dan adventure dari para peserta tahun ini. Misal, Gazan  Ghafara dengan produk keripik pisang ‘Zanana Chips’ yang berhasil memasarkan produk hingga ke Tiongkok.

2. Membuka akses pasar

Helmy kemudian menyampaikan, DSC bukan hanya soal kompetisi melainkan juga bagaimana membangun jejaring. Para pemenang DSC, dari tahun ke tahun, yang terhimpun dalam Diplomat Entrepreneur Network (DEN) bisa saling berkomuninasi.

Bahkan, mereka dapat terus berkonsultasi dengan Dekom. "Kami masih intensif berkomunikasi, juga membimbing mereka pengembangan bisnis. Kami bahkan kerap mengadakan pertemuan berkala saling mendukung usaha satu sama lain,“ kata Helmy.

Dari hasil pertemuan dan bimbingan itu, Dekom bahkan bersedia membukakan akses pasar. Misalnya Andi Restu Wibowo, grand finalist (Central Region) DSC seasons 3, tahun 2012, yang memiliki usaha bidang produksi pupuk organik dari Blora, Jawa Tengah. “Kami menjembatani Andi dan para petani cabai mitra binaannya dengan PT Indofood Sukses Makmur,“ kata Helmy.

3. Prioritas pertanian dan perikanan

Usaha bidang pertanian dan kelautan menjadi perhatian khusus pelaksanaan DSC selama beberapa tahun terakhir. Menurut Helmy, bidang ini akan mampu menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang.

Selain itu, masalah dihadapi Indonesia saat ini adalah semakin sempitnya lapangan pekerjaan, sementara tingkat pendidikan dan keahlian para petani dan nelayan masih rendah.

“Sesuai tujuan DSC, kami  memberi kesempatan kepada kaum muda Indonesia yang berani berwirausaha, sekaligus juga dapat memberi dampak pada lingkungan sekitar,“ katanya.


Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X