UGM Dirikan "Sekolah Ceria" bagi Siswa Terdampak Gempa Lombok

Kompas.com - 20/09/2018, 22:16 WIB
Sekolah Ceria yang dibangun mahasiswa KKN UGM Peduli Gempa.Dok. UGM Sekolah Ceria yang dibangun mahasiswa KKN UGM Peduli Gempa.

KOMPAS.com - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada ( UGM) Peduli Bencana berhasil membangun 2 bangunan sekolah darurat  diperuntukan memperlancar kegiatan pendidikan siswa sekolah dasar di Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, NTB.

Adam Chaesar, mahasiswa KKN UGM, mengatakan pembangunan sekolah darurat ini diberi nama Sekolah Ceria. Selain melaksanakan kegiatan pendidikan juga melaksanakan program penanganan trauma yang dialami oleh para siswa-siswi.

Gotong royong bersama warga

 

“Sekolah semi permanen ini dibangun sebagai respons atas hancurnya bangunan permanen SD 4 Gumantar karena gempa bumi sebulan yang lalu,” kata mahasiswa dari Prodi Hubungan Internasional Fisipol UGM ini seperti dikutip dari laman resmi UGM.

Baca juga: Bangga, Rampoe UGM Juara Kompetisi Tari di Korea

Ia menambahkan pengadaan sekolah semi permanen ini merupakan inisiatif dari mahasiswa sebagai salah satu program utama Tim Sosial dan Kemasyarakatan. Ia bersama tiga rekan mahasiswa lainnya, Stefani Dyah Retno Pudyanti, Madina Dwi Panuntun, Winona Alda, bahu-membahu mencari donatur untuk pembangunan sekolah semi permanen ini.

“Untuk pembangunannya melibatkan masyarakat lokal bersama tim KKN secara bergotong royong mendirikan sekolah,” katanya.

Dikelola tim KKN Peduli Gempa

Ia menyebutkan masing-masing luas bangunan sekolah darurat ini berukuran 12x6 meter persegi. Terdapat 2 bangunan sekolah yang bisa menampung 167 orang. Sekolah ini mulai dibangun sejak tanggal 12 lalu dan selesai pada 18 September lalu.

Sebagai tempat sekolah sementara bagi siswa korban gempa, Sekolah Ceria ini pengelolaannya sepenuhya dilakukan oleh tim KKN Peduli Bencana UGM.

“Sekarang ini 167 anak sudah aktif kembali ke sekolah dan mengenakan seragam sekolah, semua mata pelajaran diajarkan, namun dikemas dengan lebih menarik dan tidak bikin siswa stres,” kata Stefani, anggota mahasiswa KKN UGM lainnya.

Melibatkan partisipasi guru setempat

Meski hanya berlangsung selama dua jam setiap harinya, kegiatan belajar mengajar sudah melibatkan partisipasi guru yang sebelumnya mengajar sekolah SD di Desa Gumantar. “Guru yang terlibat alhamdulillah sudah mencapai keseluruhan guru ditambah kepala sekolah SDN 4 Gumantar,” kata Stefani.

Sekolah semi permanen dengan material bambu dan ijuk triplek disekat menjadi 6 kelas ini merupakan hasil bantuan dari Canyoning Lombok, Edelweiss Outbond, Surabaya Peduli, CMO  PT. PP (Persero) Tbk.



Close Ads X