“Tak Ada yang Gila di Kota Ini”, Sebuah Kegelisahan dari Buku ke Film

Kompas.com - 26/09/2018, 14:07 WIB
Talkshow cerpen dan rencana pembuatan film Tak Ada Yang Gila di Kota Ini pada ajang Indonesia International Book Fair (IIBF) 2018 (15/9/2018) Dok. Gramedia Digital NusantaraTalkshow cerpen dan rencana pembuatan film Tak Ada Yang Gila di Kota Ini pada ajang Indonesia International Book Fair (IIBF) 2018 (15/9/2018)

KOMPAS.com -  Wregas Bhanuteja, sutradara Indonesia peraih Semaine de la Critique di Festival Film Canes 2016 membuat film pendek berdasarkan kisah Eka Kurniawan, "Tak Ada Yang Gila di Kota Ini", ("No One Is Crazy in This Town"). 

Cerita ini merupakan salah satu bagian buku Eka, "Cinta Tak Ada Mati", yang terdiri dari 13 cerita pendek dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama ( GPU) tahun 2005.  

“Tak Ada yang Gila di Kota Ini” sendiri mengisahkan tentang penangkapan orang-orang yang disebut masyarakat itu gila, dengan latar sebuah kota kecil di Pantai Selatan Jawa. Orang-orang itu akan dibuang ke hutan agar para turis yang datang tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka.

Proyek film pertama GDN

Dalam sebuah talkshow acara Indonesia "International Book Fair" (IIBF) di Jakarta Convention Center (JCC) (15/09/2018), Wregas mengatakan bahwa ia ditawari proyek ini oleh Chief Operating Officer Gramedia Digital Nusantara (GDN), Adi Ekatama.

Adi mengatakan bahwa proyek pembuatan film ini awalnya memang ditujukan untuk orang-orang yang bekerja untuk "Ruang", sebuah platform online Gramedia yang membahas buku dan film.

Baca juga: 55 Tahun Kompas Gramedia, Berkolaborasi untuk Indonesia

"Saya mengatakan kepada mereka bahwa karena ini akan menjadi film pertama kami, lebih baik untuk tidak membidik tinggi dan membuat film feature. Cobalah yang pendek dulu. Karena kami berurusan dengan buku dan keaksaraan setiap hari, lebih baik untuk melakukan adaptasi," jelas Adi yang merupakan produser dari proyek ini.

Merasa dekat dan mewakili kegelisahan

Wregas bercerita bahwa dirinya sudah sangat ingin mengadaptasi cerita Eka Kurniawan sejak lama. Dari semua, Wregas memilih cerita “Tak Ada yang Gila di Kota Ini” karena merasa paling dekat dan mewakili kegelisahannya. Pilihan itu lalu didiskusikan bersama Adi Ekatama yang juga bersinergi dengan redaksi "Ruang".

“Saya merasakan ada kuasa yang menindas orang-orang di bawahnya. Bahwa ada orang-orang tidak berdaya di sini yang disebut orang gila,” lanjut Wregas menjelaskan.

Sutradara yang terkenal melalui karya "Prenjak" menambahkan bahwa dia melihat begitu banyak potensi untuk cerita yang akan diubah menjadi sebuah film. Namun, selaras dengan pernyataan Adi tentang proyek debut "Ruang", mereka memilih untuk menuangkan ide-ide pembuatan film ini hanya ke dalam sebuah film pendek.

"Eka menganggap cerita pendek sebagai media untuk bereksperimen. Hal yang sama berlaku untuk film pendek. Mereka memiliki lebih banyak ruang untuk eksperimen dengan gaya, karakter dan dialog daripada film layar lebar," kata Wregas.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X