BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Schneider

Minat Masyarakat Jadi Tukang Listrik Rendah

Kompas.com - 28/09/2018, 08:10 WIB
Ilustrasi pekerja listrik SHUTTERSTOCKIlustrasi pekerja listrik
|

KOMPAS.com – Indonesia tengah gencar meratakan distribusi listrik hingga pelosok negeri. Namun sayangnya, hal itu belum berbanding lurus dengan jumlah sumber daya kelistrikan yang memadai.

Demikian diungkapkan Ahmad Dahlan, Kepala Bidang Program dan Informasi Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri (P4TK BMTI) pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Adapun Ahmad berbicara dalam wawancara terbatas dengan media di sela-sela Innovation Summit 2018 Schneider Electric, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Ahmad, minimnya minat masyarakat terhadap kelistrikan menjadi tantangan tersendiri dalam mendongkrak kualitas listrik Tanah Air.

Kondisi itu sebagaimana tercermin pada data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada 2017, jumlah siswa sekolah menengah kejuruan ( SMK) jurusan kelistrikan se-Indonesia sebanyak 991 orang.

Angka itu kalah jauh dibandingkan misalnya, jurusan otomotif dengan 4.001 orang atau bahkan jurusan teknik komputer dan informatika sebanyak 5.522 orang.

“Jurusan kelistrikan kalah menarik dibandingkan bidang lain yang lebih populer di masyarakat, utamanya otomotif maupun komputer,” ungkap Ahmad.

Ia melanjutkan, terbatasnya lulusan SMK bidang kelistrikan tak selaras dengan kebutuhan tenaga kerja untuk infrastruktur listrik.

Kepala Bidang Program dan Informasi Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri (P4TK BMTI) pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ahmad DahlanKOMPAS.com/HARIS PRAHARA Kepala Bidang Program dan Informasi Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri (P4TK BMTI) pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ahmad Dahlan
Sekadar informasi, pemerintah Indonesia telah mencanangkan program pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW) sejak 2015 lalu.

“Padahal, setiap pembangunan 1 MW pembangkit listrik, butuh paling tidak 6 tenaga kerja. Jelas, masih sangat kurang antara supply dan demand tenaga kelistrikan,” ucapnya.

Baca juga: Era Digital, Jangan Sampai Listrik Hanya Sekadar Impian

Karena itulah, lanjut Ahmad, pemerintah terus berupaya menggenjot ketertarikan masyarakat terhadap dunia kelistrikan.

Caranya, imbuh dia, antara lain dengan mengubah citra listrik agar lebih membumi.

“Selama ini, ada kesan bidang kelistrikan itu abstrak, sulit, bahkan menyeramkan. Itu sedang kami upayakan untuk diubah,” kata Ahmad.

Peran swasta

Direktur Sumber Daya Manusia Schneider Electric Indonesia Indah Prihardini menambahkan, terbatasnya tenaga kerja lulusan kelistrikan juga menjadi tantangan bagi sektor swasta, seperti Schneider Electric.

“Kami turut mencermati bahwa jurusan kelistrikan tak begitu menarik di masyarakat,” ucap wanita yang biasa disapa Dini itu.

Mengacu data World Economic Forum, per 2016, jumlah lulusan kelistrikan dan ilmu terkait di China mencapai 4,7 juta orang. Sementara itu, di Indonesia hanya berkisar 206.000 orang.

Direktur Sumber Daya Manusia Schneider Electric Indonesia Indah PrihardiniKOMPAS.com/HARIS PRAHARA Direktur Sumber Daya Manusia Schneider Electric Indonesia Indah Prihardini
Menyadari masih rendahnya tenaga kelistrikan di Indonesia itulah, lanjut Dini, pihaknya berupaya membantu pemerintah dalam meningkatkan jumlah lulusan bidang tersebut.

Menurut Dini, pihak perusahaan telah bekerja sama dengan pemerintah Indonesia serta Perancis dalam mendukung vokasi bidang kelistrikan.

“Kami memiliki sedikitnya 184 lab vokasi dan ditargetkan beberapa tahun ke depan bisa melahirkan 10.000 tenaga kerja kelistrikan siap pakai,” tuntas Dini.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.